Cerita Kehamilan: Pilih Obgyn atau Bidan?

Sumber ilustrasi: Freepik
 
Akhirnya saya kembali lagi setelah absen menulis blog selama hampir sebulan. Hehehe... Maaf ya... Memasuki minggu ke-10, saya baru mendapatkan lagi kekuatan dan juga mood untuk nulis. Alhamdulillah rasa mual, muntah, dan pusing udah jauh berkurang. Cuma rasa kantuknya ini yang nggak tertahankan. Kadang di kantor saya bisa ketiduran begitu aja meski lagi duduk di depan laptop. Dan kalau malam jangan ditanya deh, jam 8 atau jam 9 aja mata udah mulai sayu.

Saya mau cerita sedikit, ketika saya dan suami mengetahui kalau saya sedang hamil, kami memutuskan untuk pergi ke obgyn yang praktik di rumah sakit besar di daerah Depok. Ketika tiba saatnya kontrol di minggu ke-8, kami memutuskan untuk coba-coba periksa ke bidan aja. Alasannya sederhana, keuangan kami lagi super ketat lantaran baru melunasi DP rumah. Jadi opsi melakukan pemeriksaan kehamilan di rumah sakit besar kayaknya kami kesampingkan dulu.

Dari hasil googling sana sini, kami menemukan Bidan Jenda yang lokasinya di Jalan Raya Lenteng Agung, nggak terlalu jauh dari tempat tinggal kami saat itu. Kami berangkat ke sana jam 8 pagi hari Selasa. Saya sempat ketar-ketir takut antriannya udah mengular, tapi ternyata begitu sampai di sana antriannya sepi banget. Kami disambut oleh mbak-mbak berdaster yang sedang menyapu halaman dan ia mempersilakan kami masuk. Setelah menunggu sebentar, ternyata mbak-mbak berdaster tadi adalah bidannya. Ya ampun... 😂

Meski sempat agak underestimate, tapi setelah mengobrol sebentar saya justru merasa nyaman berkonsultasi sama sang bidan. Dia bisa menebak kalau saya pasti sering ngantuk, padahal saya nggak bilang. Katanya kalau ibu hamil ngantuk, berarti kekurangan darah. Dia bisa tau karena saya bilang dari dokter sebelumnya hanya dikasih asam folat dan obat penguat kandungan yang harganya muahal ampun-ampunan. Sedangkan janin di dalam tubuh pastinya menyerap darah cukup banyak dari sang ibu, hal itulah yang menyebabkan ibu hamil sering mengantuk.

Karena saya juga ada keluhan mual dan muntah cukup parah beberapa hari sebelum kontrol yang menyebabkan berat badan saya turun 3 kilo hanya dalam waktu 3 hari, ia meresepkan obat mual dan obat pusing yang hanya diminum kalau saya mengalami keluhan itu. Kalau enggak, cukup asam folat dan vitamin penambah darah aja yang saya konsumsi setiap hari. Berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk konsultasi sekaligus obat-obatan dan vitamin? Cuma Rp 130,000,- saja! 😂 Bayangkan sebelumnya waktu saya memeriksakan kehamilan di rumah sakit, untuk menebus obat dan vitamin yang cuma dua jenis aja kami harus merogoh kocek Rp 750.000,- :') Jumlah itu belum termasuk biaya konsultasi dokter dan juga USG, total biaya yang kami keluarkan mencapai 1,2 juta rupiah. *elus dada*

Kok nggak USG sekalian? Soalnya jadwal USG di Bidan Jenda ternyata hanya ada setiap hari Rabu pukul 17.00-19.00 WIB saja. Dokter yang praktik di sana ternyata juga praktik di RS Bunda Margonda. Jadi si alat USG-nya itu dibawa-bawa sama dokternya, makanya kenapa hanya tersedia seminggu sekali. Saya pun disarankan untuk daftar terlebih dahulu via telepon untuk mendapat nomor antrian. Baiklah, jadi hari Rabu berikutnya, kami datang ke Bidan Jenda sepulang dari kantor dan udah mengantongi nomor urut 10, padahal saya daftar jam setengah 11 pagi lho.

Begitu sampai di sana, keadaannya lumayan hectic, rata-rata ibu hamil yang datang didampingi oleh suaminya, ada juga yang ditemani ibunya atau anaknya. Cukup lama kami menunggu, rupanya sang dokter kena macet. Setelah diukur tensi dan berat badan, kami diminta menunggu dan baru dipanggil satu per satu ke dalam ruangan USG. Dokternya kayak kelelahan dan kurang fokus sama pasien, saya nggak merasakan disambut oleh beliau, beda banget dengan waktu konsultasi sama bidan. Mungkin karena faktor banyaknya pasien juga, jadi semuanya berpacu dengan waktu. Usai diperiksa lewat USG dan hasilnya dinyatakan baik, kami diminta keluar lagi untuk menunggu. Kemudian kami dipanggil lagi ke dalam ruangan konsultasi dengan dokter yang berbeda. Yang menurut saya lagi-lagi kurang dekat dengan pasien karena malah sibuk jualan susu ibu hamil. 💆 Memang sih biaya yang dikeluarkan sangat murah, cuma Rp 150.000,- kami mendapat print out USG 2 dimensi. Sedangkan biaya USG di rumah sakit besar setidaknya Rp 250.000,-.

Pulang dari bidan, saya dan suami kembali berdiskusi, gimana sebaiknya langkah yang kami ambil untuk kontrol di minggu ke-12 nanti? Apakah akan kembali kontrol di rumah sakit besar atau mau coba di bidan lagi? Terutama karena awal bulan November kami pindah rumah, menempati rumah baru di daerah Bojonggede. Terlalu jauh kalau kami harus kontrol ke Depok, tapi rumah sakit di daerah Cibinong - Bojonggede - Citayam pun belum ada yang cukup meyakinkan.

Suatu hari saya nggak sengaja baca status teman kuliah saya tentang gentle birth. Saya memang nggak asing sih dengan istilah ini. Bahkan jauh sebelum saya menikah, saya pernah menulis sebuah artikel tentang gentle birth di CiriCara berdasarkan kisah pengalaman melahirkan Dee Lestari yang menurut saya sangat indah. Tapi waktu itu saya cuma bisa berandai-andai, karena yang saya tahu, melahirkan dengan metode water birth (yang merupakan salah satu dari metode gentle birth), biayanya jauh lebih mahal ketimbang melahirkan dengan cara-cara biasa. Teman saya malah pernah bilang, "Udah lo gak usah ikut-ikutan artis ah, lahiran di air segala itu mah cuma buat orang kaya." Huffft, baiklah, saya pun nggak pernah terpikirkan hal itu lagi, sampai akhirnya saya sendiri yang hamil.

Terus terang, sampai di usia kehamilan 10 minggu saya masih clueless tentang apa yang saya inginkan atau saya harus persiapkan. Memang sih saya cukup banyak mengumpulkan informasi dari internet, website kesehatan, sampai akun-akun berbasis parenting dan motherhood yang saya ikuti di Instagram. Tapi tetep aja bagi saya ini semua masih menjadi konsep yang abstrak. Saya belum punya daftar keinginan, daftar persiapan, dan sebagainya yang cukup konkrit. Sebenernya maunya saya apa sih?

Well, yang jelas satu hal yang saya yakini, entah kenapa saya lebih sreg untuk lahiran di bidan ketimbang di rumah sakit besar. Mungkin ini cuma pendapat saya pribadi, tapi dari cerita-cerita teman saya maupun dari sumber-sumber lain, saya mengambil kesimpulan bahwa melahirkan di rumah sakit besar entah kenapa kok cenderung lebih mudah mengambil keputusan jalan operasi ketimbang melahirkan normal. Itu yang saya takuti. Saya takut kelak dokternya nggak sabaran menanti pembukaan lengkap dengan berbagai alasan hingga akhirnya menyuruh operasi. Saya takut dalam kondisi panik, bingung, dan kesakitan, akhirnya saya mengambil keputusan yang sebenarnya tidak saya inginkan, padahal masih bisa dihindari. Saya takut harus berbagi kamar bersama ibu-ibu lain yang juga kesakitan dan ketakutan, sehingga membuat saya semakin dilanda rasa panik. Ketakutan-ketakutan itulah yang membuat saya lebih condong melahirkan di bidan, hal itu yang saya tekankan pada suami saya.

Balik lagi ke status teman kuliah saya tentang gentle birth, akhirnya saya tahu bahwa ternyata bidan yang mendalami metode ini kian banyak. Kalau beberapa tahun lalu mungkin hanya segelintir tenaga kesehatan yang bersedia melakukan persalinan dengan metode ini, namun sekarang keadaannya sudah berbeda. Melahirkan dengan proses senyaman dan senatural mungkin, kini bisa dijangkau oleh berbagai lapisan masyarakat. Bermula dari informasi yang saya peroleh tentang Bidan Yesie Aprillia, saya langsung blusukan ke berbagai blog. Bidan Yesie Aprillia ini sayangnya berbasis di Yogyakarta. Nggak mungkin dong saya musti jauh-jauh ke sana untuk lahiran doang? 😂

Alhamdulillah, di forum ibu hamil saya menemukan nama Bidan Erie Marjoko. Ia bukan hanya bidan, namun juga menjadi guru prenatal yoga, penggiat gentle birth, self healing practicioner, dan masih banyak lagi titel yang disandangnya. Saya menemukan banyak blog yang mereferensikan Bidan Erie untuk belajar tentang gentle birth. Banyak juga yang berencana melahirkan di rumah sakit namun sengaja konsultasi ke sana untuk lebih menguasai hypnobirthing. Mereka mengakui bahwa sekedar mengobrol dengan Bidan Erie aja rasanya pikiran langsung dipenuhi afirmasi positif yang membantu mereka menghadapi proses kelahiran dengan nyaman dan penuh percaya diri. Kabar baiknya, tempat praktik Bidan Erie ternyata di Citayam, yeay! Lokasinya nggak terlalu jauh dari tempat tinggal kami yang sekarang. Saya pun menceritakan hal ini dengan penuh antusias pada suami saya, ia memberi dukungan penuh kalau memang itu yang saya inginkan dan membuat saya nyaman.

So, balik lagi ke judul tulisan ini, lebih pilih obgyn atau bidan? Semua kembali lagi pada pilihan sang ibu, mana yang paling membuatnya merasa aman dan nyaman? Jawaban setiap ibu hamil pasti berbeda-beda. 😊 Semenjak banyak mencari tahu tentang gentle birth, saya baru menyadari kalau selama ini saya hanya mempersiapkan diri (dan juga suami saya) untuk kemungkinan terburuk. Saya menjejalinya dengan berbagai informasi dan tulisan tentang baby blues hingga postpartum depression (PPD). Tanpa sadar selama ini saya menanamkan pola pikir bahwa saya mungkin akan mengalami hal itu, yang (amit-amit ya Allah) mungkin saja malah akan diamini oleh semesta. Tapi nggak pernah sekali pun saya membayangkan bahwa proses persalinan saya nantinya pasti sesuatu yang indah dan nggak akan terlupakan. Memang nggak ada salahnya memperkaya diri dengan pengetahuan tentang hal-hal buruk yang biasanya dialami oleh ibu hamil, sekedar untuk antisipasi. Tapi jangan sampai kita hanya terpaku pada pikiran negatif tersebut sampai mengesampingkan fakta bahwa melahirkan adalah proses alami. Semoga para ibu hamil di luar sana yang lagi galau segera diteguhkan hatinya, dibukakan jalannya, dan semoga kita semua sehat selalu sampai proses melahirkan. Aamiin.... 😇

Comments