Dulu, Kini, dan Nanti

Saya punya kesulitan dalam menerima dan mendengarkan masukan dari orang lain. Saya cenderung keras kepala ketika saya meyakini sesuatu yang menurut saya paling baik. Mungkin ego anak pertama dalam diri saya mengambil peran paling besar dalam kekeraskepalaan saya itu. Ndilalah, saya dipasangkan dengan laki-laki yang juga anak pertama. Kebayang dong kayak apa pertarungan egonya? 🙃

Suatu hari di minggu kedua setelah kami menikah, saya hendak pergi ke bank untuk mengurus kartu ATM saya yang hilang. Saya berencana pergi ke bank yang terletak di kampus swasta dekat tempat tinggal kami karena hanya perlu jalan kaki tanpa keluar ongkos. Suami saya berkata, "Kenapa nggak ke cabang Depok aja yang di Margonda? Di sana lebih besar, levelnya bukan cabang pembantu." Saya menjawab, "Nggak ah, jauh dan mahal ongkos Grab-nya, udah bener aku ke yang di kampus aja." Paham dengan kekeraskepalaan istrinya, dia cuma diam dan membiarkan saya pergi ke bank yang saya inginkan. Tahu bagaimana akhirnya? Begitu sampai di bank dekat kampus itu, ternyata sistemnya offline tepat saat giliran saya dipanggil ke meja customer service. Padahal nasabah sebelum saya baik-baik saja. 💆 Mau nggak mau saya pun pergi ke kantor cabang yang di Depok. Mungkin memang suami saya ridho-nya saya pergi ke sana, jadi pergilah saya ke sana. 🙃

Minggu berikutnya, saya merengek ingin beli panci supaya bisa masak sayur dengan lebih leluasa. Namanya juga pengantin baru, perabot rumah tangga kami belum terlalu banyak. Hehehe... Kami pun mampir ke toko serba ada yang menjual berbagai perlengkapan rumah tangga di Bogor, sekalian berkunjung ke rumah orangtua saya. Waktu itu saya sudah punya bayangan panci seperti apa yang saya inginkan, sampai ke spesifikasi ukuran, bahan, dan merk. Namun ternyata sampai di sana panci yang saya inginkan nggak ada. Karena udah lumayan mendesak, saya putuskan beli panci yang lain saja. Pilihan saya jatuh pada panci stainless steel diameter 22 cm dengan pegangan plastik dan tutup kaca. Lagi-lagi kami silang pendapat. Suami saya menyarankan saya membeli panci lain dengan diameter sama tapi lebih tinggi dan bahannya full stainless steel.

Saya menolak pilihan dia mentah-mentah, karena menurut saya panci itu terlalu tinggi dan kapasitasnya terlalu besar untuk kami berdua. Saya merasa belum membutuhkan panci setinggi itu untuk keperluan memasak. Paham dengan kekeraskepalaan istrinya, lagi-lagi dia membiarkan saya memilih panci yang saya inginkan. Esoknya ketika dipakai memasak, panci itu terus-terusan berbunyi meletup dan berbau gosong seperti plastik terbakar. Saya masih denial bahwa panci itu baik-baik saja. Puncaknya, ketika saya merebus daging untuk memasak sop, bau plastik terbakarnya semakin menjadi-jadi dan memenuhi seisi ruangan bahkan sampai ke luar. Suami saya benar-benar nggak tahan dengan baunya dan sampai mual, hingga akhirnya kami putuskan melepas gagang plastik dari badan panci. Ternyata dari awal masalahnya memang pada gagang panci plastik itu, begitu dilepas bau gosongnya pun hilang.

Meski malu mengakui, tapi saya tahu bahwa kekeraskepalaan saya selama ini seringkali menyusahkan diri sendiri, dan juga suami saya. 😅 Mungkin sebenarnya suami saya punya alasan sendiri kenapa dia meminta saya begini dan begitu, atau lebih memilih melakukan yang ini ketimbang yang itu. Bukan semata-mata karena ingin permintaannya dituruti, tapi karena tahu bahwa dia menyarankan saya melakukan sesuatu atas dasar pertimbangan terbaik. Tapi lagi-lagi, saya memang terlalu sering ngeyel. 😅

 
Saya pernah baca selewat, being kind is more important than being right. Mungkin prinsip itu yang diterapkan olehnya dalam keseharian kami. Meski ia tahu pendapatnya benar, tapi ia membiarkan saya melakukan hal yang saya pilih. Bisa jadi itu cara dia menunjukkan bahwa dia benar, tanpa menyinggung saya atau memantik perdebatan di antara kami. Apapun alasannya, cara itu bisa dibilang berhasil untuk menghadapi orang keras kepala seperti saya. 😅

Dengan segala kelembutan hatinya, malu rasanya kalau kualitas diri saya masih seperti ini. Mungkin nggak akan tercapai dalam waktu dekat, karena segala sesuatu butuh proses, tapi saya bertekad ingin menjadi istri yang lebih menghormati dan menaati suami.

Selamat ulang tahun suamiku. Semoga kamu selalu dikaruniai kesehatan dan rizki yang halal. Semakin bahagia dan bisa saling membahagiakan. Tetaplah jadi pasangan hidup yang menyenangkan seperti dulu, kini, dan nanti. 💖


Comments