How I Met My Significant Other



“Assalamu’alaikum… Temannya Randi ya?”

Suatu hari di bulan September, sebuah pesan mendarat di direct message Instagram saya. Sebetulnya saya tahu siapa si pengirim, tapi pesan itu cuma saya baca, lalu saya diamkan selama berbulan-bulan. Jahat ya? πŸ˜…

Tapi sebenarnya, perkenalan kami dimulai jauh sebelum saat itu. Sekitar tujuh bulan sebelumnya, sahabat saya bilang pacarnya punya teman yang lagi jomblo dan juga lagi nyari pacar, siapa tahu saya tertarik. Waktu itu saya memang baru putus, jadi sah-sah aja dong? 😝 Karena pada masa itu Path masih jadi platform social media yang lumayan ramai, dia meng-add akun Path dan juga Facebook saya. Tapi dia nggak melakukan pendekatan yang terlalu berarti, cuma sekedar nge-love, laugh, like status-status saya aja. Bahkan meninggalkan komentar pun enggak. πŸ˜… Saya cuma tahu dia teman kuliah pacarnya sahabat saya, kuliah di bidang IT, kerjanya pun di bidang IT.


Bodohnya saya, nggak berapa lama kemudian saya malah rujuk sama orang yang udah saya tinggalin. πŸ’† Iya, iya, kalian boleh ketawa sepuasnya. πŸ˜‚ Karena kami masih berteman di social media, saya bisa tahu ternyata beberapa minggu kemudian dia juga punya pacar. Oh, baiklah, mungkin kami memang nggak berjodoh. Kami pun melanjutkan hidup masing-masing dan misi sahabat saya bersama pacarnya untuk menjodohkan kami buyar saat itu juga.

Sekitar pertengahan bulan Juni, saya kembali menjomblo (Alhamdu? .... lillah ~ πŸ˜‚). Sahabat saya langsung semangat ingin mencarikan saya pacar baru. Beberapa nama yang dulu sempat diajukan ke saya, masuk lagi ke dalam daftar calon kandidat. #halah πŸ˜‚ Tapi kali ini saya nggak mau terburu-buru, saya cuma ingin menikmati masa-masa jomblo dan bebas melakukan apapun yang saya mau. Jadi saya menghabiskan periode jomblo saat itu dengan liburan ke Singapura, ikut open trip ke Kepulauan Seribu, ikut workshop fotografi gratis, dan nggak lupa ngerecokin sahabat saya sama pacarnya tiap malam minggu dengan jadi obat nyamuk. πŸ˜‚

Singkat cerita, suatu hari dia ngobrol dengan pacarnya sahabat saya. Entah kebetulan atau bukan, kira-kira satu bulan setelah saya menjomblo, ternyata dia juga putus dengan pacarnya. πŸ˜‚ Dia pun kembali menanyakan kabar saya. Saat itu saya memang lagi dekat dengan beberapa orang, walaupun nggak ada yang terlalu saya seriusin. Ketika tahu kalau saya juga lagi jomblo, dia pun kembali minta dikenalkan. Dia bilang sih nggak mau kecolongan lagi kayak waktu pertama kali berusaha ngedeketin saya. 😝 Katanya, "Bisi kaburu ku batur!" (Baca: "Takut keduluan sama orang!") πŸ˜‚ Tapi pacarnya sahabat saya ini ragu-ragu dan nggak berani approaching langsung ke saya kalau nggak lewat sahabat saya dulu. Sahabat saya ini memang super protektif sama saya perihal milih cowok. Bisa dibilang dia adalah ring terluar dalam hal seleksi cowok sebelum bisa saya ajak ke jenjang berikutnya. πŸ˜‚

Well, kembali ke era Instagram. Sekitar bulan September dia akhirnya mem-follow akun Instagram saya, namun saya nggak langsung mem-follow balik. Saya juga mengunci akun dia supaya nggak bisa lihat Instagram Stories saya. πŸ˜‚ Duileeeeh sampai segitunya buuuk.... πŸ™ˆ Karena nggak mau terburu-buru, saya cuma memantau isi social media-nya. I just want to make sure that he's not some kind of weirdo. πŸ˜… Dari hasil pantauan itu, saya jadi tahu kalau dia ternyata juga seorang photography enthusiast, walaupun beda 'agama' dengan saya yang menganut ajaran Olympian. 😝 Akhirnya saya putuskan untuk mem-follow balik akunnya, saat itulah dia langsung mengirim pesan lewat Instagram, yang cuma saya diamkan itu. Jadi, Ani maunya apa sih? NGGAK TAUUUUUU.... πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

In my defence, I've been hurt so deeply several times before. I don't even know whether I still have courage to fall in love again. That's what keep me from opening up to someone new. But I decided that I should give him at least one more chance. So that's what I did.

Sekitar bulan November, saya mengunggah pengumuman workshop Darwis Triadi yang rutin saya ikuti setiap bulan. Nggak berapa lama, dia langsung me-reply unggahan tersebut dan bertanya apakah workshop itu terbuka bagi pemilik kamera dari merk lain? Kali ini pesan tersebut nggak saya diamkan. πŸ™ˆ Obrolan kami seputar kamera langsung merembet ke mana-mana. Entah gimana caranya, dia berhasil meyakinkan saya untuk ikut kompetisi fotografi yang diadakan di kawasan Pluit. Okay, so... is this a date? πŸ˜…

Kami bertemu untuk pertama kalinya (setelah berbulan-bulan cuma kenal di dunia maya dan lewat cerita-cerita teman saya) di Stasiun Pondok Cina. Padahal dia udah sampai lebih dulu dari saya yang berangkat dari Bogor. Tapi entah karena gugup atau salah makan, dia mules dan terpaksa ke toilet dulu, jadilah saya yang menunggu dia selesai troubleshoot. πŸ˜‚

Sepanjang hari itu, saya dibuat mesem-mesem sama tingkahnya yang konyol, lontaran jokes recehnya yang surprisingly satu frekuensi dengan saya, juga karena dia terus menerus berusaha memotret saya secara diam-diam sepanjang waktu, padahal ada ratusan model yang harusnya dia jadiin objek foto. πŸ™„ There's something about him that made me feel so... special? Entahlah, mungkin karena selama ini saya nggak pernah becus mencari pasangan (and always ended up being mistreated πŸ˜‚), perhatian-perhatian kecil yang dia tunjukin ke saya aja udah berhasil bikin saya kesenengan. πŸ™ˆ Sebetulnya kompetisi fotografi itu baru selesai jam 5 sore, tapi baru jam 2 dia ngajak saya pulang. Nggak pulang juga sih sebenernya, itu modus dia aja supaya bisa ngajak saya nonton Justice League di Kalibata City. πŸ˜‚ Jadi, baru juga pertemuan pertama dia udah 'menyandera' saya dari jam 8 pagi sampai jam 9 malam. Biasanya di kencan pertama saya cuma makan atau minum kopi di kafe, paling lama cuma makan waktu 3-4 jam aja. So this is the longest first date I've ever been. πŸ˜‚

Pertemuan pertama itu lalu berlanjut ke pertemuan kedua di minggu berikutnya. Dia mengajak saya datang ke workshop fotografi yang diisi oleh Arbain Rambey, fotografer senior harian Kompas yang sejak lama saya kagumi. Kalau di pertemuan pertama kami ke mana-mana naik kereta dan Transjakarta, kali ini dia mengajak saya naik motor. Dari Stasiun Pondok Cina, kami naik motor ke Bentara Budaya di kawasan Palmerah. Begitu selesai workshop, dia mengajak saya menjenguk teman kantornya di rumah sakit, karena malam sebelumnya mengalami kecelakan saat naik taksi. Di sana saya bertemu dengan beberapa teman kantornya. Selesai dari rumah sakit, kami iseng ke Masjid Istiqlal untuk sholat Ashar. Sejujurnya itu kunjungan saya ke Masjid Istiqlal setelah belasan tahun nggak pernah ke sana lagi. πŸ˜‚ Oke, jadi baru juga kencan kedua kami udah melewati banyak milestone ya. πŸ˜… Kencan kedua kami pun ditutup dengan jalan-jalan ke Monas sampai jam 8 malam.

Bersama Om Arbain Rambey

Eits, ceritanya nggak berhenti sampai di situ. Kalian pikir gimana caranya saya pulang dari Monas ke rumah saya di Ciomas? Naik motor dong pastinya. πŸ˜‚ Sumpah, itu pertama kalinya saya pulang naik motor dengan jarak sejauh itu, sama orang yang belum juga jadi pacar saya. Jangan tanya kayak apa rasanya, beberapa kali saya hilang arah nggak tahu udah sampai mana. Saya bahkan baru tahu kalau Jalan Raya Bogor itu ujungnya ada di Pasar Kramat Jati di Jakarta Timur (iya kami lewat situ πŸ˜‚), karena selama ini cuma pernah ngelewatin sampai Depok aja. Sepanjang jalan saya nggak berhenti bolak-balik nanya, "Kamu capek nggak? Mau berhenti dulu? Kamu yakin mau nganter sampai Bogor? Aku nggak apa-apa kok kalau cuma dianter sampai stasiun terdekat." Tapi dia kekeuh banget mau nganterin saya sampai ke rumah. Padahal Jalan Raya Bogor macetnya minta ampun. Perjalanan pulang dari Monas ke Ciomas makan waktu sekitar 2,5 jam. Kami baru sampai di rumah sekitar jam 22.30, dan dia langsung pulang saat itu juga ke Depok. πŸ’†

Besoknya, berkali-kali saya minta maaf karena ngerasa nggak enak hati harus bikin anak orang motor-motoran sejauh itu cuma buat nganterin saya pulang. Jujur aja saya takut dia bakal kapok ngedeketin saya dan langsung mau mundur begitu tahu seberapa jauh rumah saya. Tapi ternyata malah dia yang minta maaf dan ngerasa nggak enak hati karena udah ngajak saya main sampai malam, pulangnya pun diantar naik motor. Percayalah, saya pernah ngalamin hal yang lebih nggak enak dari itu. πŸ˜‚ Justru, kegigihan dia malah bikin saya makin luluh. πŸ™ˆ

Sejak saat itu, intensitas kami bertemu jadi semakin sering. Kami memang sama-sama anak kereta, tapi kami naik dan turun di stasiun yang berbeda di jam yang berbeda pula. Dia yang biasanya berangkat di atas jam 9, demi bisa bareng sama saya akhirnya bela-belain berangkat lebih pagi. Dan saya yang biasanya dari Stasiun Bogor langsung turun di Stasiun Tanjung Barat, bela-belain turun dulu di Stasiun Pondok Cina. Capek? Nggak lah, namanya juga lagi kasmaran. πŸ™ˆπŸ˜‚ Kami juga jadi lumayan sering ketemu di jam pulang kantor. Dia ikut mengantar saya sampai Stasiun Bogor, lalu kami makan di pusat jajanan Jembatan Merah.

Sampai akhirnya, suatu pagi di bulan Desember, dia memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya ke saya. #tsah πŸ˜‚ Kalau ingat situasi waktu itu, sebenernya nggak kondusif sama sekali. Stasiun lagi ramai-ramainya karena masih di jam sibuk, banyak orang berseliweran, belum lagi petugas stasiun nggak berhenti ngasih pengumuman lewat pengeras suara, kereta yang lewat setiap beberapa menit sekali, dan kami berdiri di samping.... tempat sampah. πŸ’† Romantis? Apa itu romantis? πŸ˜‚

Saya nggak langsung ngasih jawaban saat itu juga. Sebenarnya saya udah tahu mau jawab apa, saya cuma.... mengumpulkan keberanian sekaligus meyakinkan diri. Apalagi di minggu yang sama, kami hendak pergi ke Pulau Harapan. Semula kami berencana ikut open trip dan pergi berlima dengan teman-teman saya yang lain. Hanya saja, semakin mendekati hari keberangkatan satu per satu calon peserta berguguran dan jadilah cuma tinggal kami berdua (juga rombongan open trip lain yang totally stranger) yang pergi ke Pulau Harapan. Saya masih ingat, beberapa bulan sebelum kami dekat, saya membuat daftar pertanyaan yang hendak saya ajukan untuk siapapun yang menunjukkan niat serius pada saya. Daftar itu saya simpan baik-baik, beberapa kali mengalami perubahan baik dikurangi maupun ditambahkan. Namun pertanyaan itu baru benar-benar saya ajukan saat kami berada di atas kapal yang berlayar ke Pulau Harapan.

Pada dasarnya kalau kami lagi bersama, susah banget buat serius. Pasti bawaannya mau ledek-ledekan atau bercandain hal-hal nggak penting. Tapi siang itu saya paksa dia untuk serius, karena jawaban yang dia kasih, bakal menentukan jawaban yang akan saya berikan nantinya. Ditanya kok malah nanya balik? Ah peduli amat. πŸ˜‚ I just want to make sure that I chose the right person as my partner. I want to make sure that I'm not gonna waste my time like I did before. Iya, udah kayak HRD lagi ngewawancara calon karyawan memang, dan nggak lupa saya dibantu sahabat saya juga melakukan background check. πŸ˜‚ Ada beberapa hal yang sempat bikin kami nyureng, saya jadikan catatan, lalu saya konfirmasi langsung ke yang bersangkutan. I know, there's no such thing as a perfect man. Tapi saya belajar untuk membuat skala prioritas dalam menilai karakter seseorang. Ada beberapa karakter atau kriteria yang bagi saya merupakan harga mati, nggak bisa nggak. Ada beberapa yang masih bisa dimaklumi. Ada juga yang kalau ada ya syukur, nggak ada pun nggak apa-apa. πŸ˜‚

Kok kayaknya saya tipe orang yang logic banget dalam mencari pasangan hidup? Padahal itu kan seharusnya jadi urusan hati. Hey... Justru saya orang yang amat sangat gampang bawa-bawa hati dalam segala urusan. πŸ™ˆ Gimana enggak? Dibaik-baikin sedikit aja saya langsung baper. πŸ˜‚ But I learned the hard way that I should change that if I want to survive. Makanya saya cenderung jadi orang yang picky banget, bahkan cenderung paranoid. Begitu nemu ada satu hal yang nggak sreg di hati, langsung diam-diam menjauh sampai sahabat saya aja geleng-geleng kepala. πŸ™ˆπŸ˜‚

Sahabat saya yang lain pernah bilang, the best way to get to know someone, is to be their someone special, to be as close as you can get. Kalau cuma mengenal seseorang di masa-masa pendekatan, pasti apa yang kita lihat hanya sebagian kecil dari kepribadian mereka seutuhnya. That's why, if I had a good feeling about him, I should give him a chance to get to know me better. And by doing so, I will get to know him better too. Bahkan sekalipun udah jadi pacar, bisa jadi tetap ada sisi yang kita pilih untuk nggak ditunjukkan. Betul? πŸ˜›

Selama perjalanan di Pulau Harapan, saya ngerasain betul dijagain 24 jam sama dia. πŸ™ˆ Awalnya sih saya berusaha sok independent dan sok nggak butuh dia. Makanya pas snorkeling hal pertama yang saya lakukan begitu nyemplung ke laut adalah.... berenang sejauh mungkin dari dia. Dan itu keputusan paling tolol yang saya lakuin. πŸ˜‚ Pertama saya nggak bisa berenang, kedua saya orangnya gampang panik, ketiga saya suka nggak nyadar akan dua hal itu dan tetep sotoy aja berenang sendiri. Walhasil baru 15 menit pertama nyemplung di laut kepala saya kejedot lambung kapal waktu mau nyoba naik, gelagapan sampai nggak sengaja kemasukan air laut, dan sempet kebawa arus ke bagian laut yang dalam dan udah bukan di wilayah snorkeling lagi. Selama kami berenang terpisah, diayang bisa leluasa berenang tanpa pelampungterus berusaha menghampiri saya. Tapi selalu aja tiap kali dia udah hampir dekat, malah saya yang menjauh. Begitu kami naik kapal, saya langsung kena semprot. πŸ˜‚ Makanya di lokasi snorkeling berikutnya, saya nggak dibiarin jauh-jauh begitu nyemplung ke laut. Yak, di bawah laut aja gandengan terus ke mana-mana. πŸ‘

Jiyeee gandengan πŸ™ˆ

Malam harinya, tim open trip kami menikmati barbekyu di pinggir laut. Setelah makan-makan selesai, sementara peserta yang lain langsung kembali ke guest house, kami masih duduk-duduk di pinggir laut. Okay, so... this is it. 😌 Malam hari, di pinggir laut, angin sepoi-sepoi, wah pasti so sweet banget nih. Jangan terlalu cepat berasumsi... πŸ’† Suasananya nggak se-syahdu yang dibayangkan, karena di belakang kami ada yang nyetel lagu... Malam Terakhir-nya Rhoma Irama. πŸ˜‚ Awalnya saya nggak nyadar sama sekali. Saya sibuk nyerocos aja terus, menyampaikan kalimat demi kalimat yang udah saya persiapkan, pokoknya udah serius banget deh. Saya mulai curiga karena dia kok tumben-tumbennya diam aja, nggak menanggapi saya sama sekali. Begitu saya perhatikan baik-baik, ternyata jempol kakinya lagi asik goyang ngikutin irama lagu. Pantesan aja dia kayak nggak fokus dan nggak nyimak. ASTAGA... 😠😑😣 Mau marah sebenernya tapi nggak bisa. πŸ˜«πŸ˜‚

Sejak awal kami pacaran, dia udah mengutarakan niatnya untuk serius sama saya. Meski awalnya saya diliputi keraguan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, tapi ternyata dia jauh lebih gigih menunjukkan keseriusannya. Kalau saya ibarat batu yang keras, dia itu air yang nggak bosan-bosan menetes sedikit demi sedikit sampai batu yang keras itu pun terkikis. 😊

It was all started with a simple hello.
I decided to turn him down back then.
But it looks like he couldn't take 'no' as an answer.
So he waited patiently.
Until I got a little softened.
And that, my friend, was a story about how to turn a stranger into a lover.

Comments

Post a Comment