Krabi: Mengenal Thailand dari Pesisir Laut Andaman (Part 1)

Salah satu pantai di Hong Island

Waktu saya bilang mau liburan ke Thailand, banyak yang bertanya, "Wah pasti mau ke Bangkok/Phuket/Phi Phi ya?" Hmmm, tebakan yang gampang banget ditebak, padahal potensi wisata Thailand nggak cuma itu aja sih. 😅 Ada satu daerah tujuan wisata bernama Krabi di Thailand yang mungkin belum sepopuler Phuket. Tapi justru itu yang saya cari, daerah wisata yang belum terlalu dikenal wisatawan asing. Karena saya nggak terlalu suka kawasan wisata yang saking populernya sampai penuh sesak dan jadi kurang bisa menikmati suasana. Makanya Phuket dan Phi Phi nggak masuk ke dalam bucket list saya.

Saya sudah merencanakan trip ke Krabi ini sejak bulan September 2017 bersama siapa lagi kalau bukan teman jalan saya Nuni. 😂 Mungkin banyak yang mikir, perasaan baru kemarin posting saya habis lamaran, lho kok sekarang udah jalan-jalan lagi aja bukannya sibuk persiapan menuju hari H. Ya mau gimana lagi, enam bulan lalu mana saya tahu kalau saya bakal dilamar? 😂 Sedangkan kalau trip ini dibatalkan rasanya sayang banget, biaya yang udah saya keluarin buat tiket pesawat dan booking hotel kan lumayan gede. Jadi saya putuskan trip harus jalan terus. 😁

Saya berangkat dari Jakarta hari Rabu, 28 Maret 2018 setelah jam pulang kerja menuju Kuala Lumpur terlebih dahulu. Karena untuk Air Asia, semua penerbangan menuju Krabi pasti harus transit di Kuala Lumpur. Oh iya, saya beli tiketnya terpisah ya, jadi tiket pesawat pulang pergi CGK-KUL saya beli dulu, baru tiket KUL-KBV saya beli terpisah lagi. Kenapa nggak beli yang sekaligus aja? Karena perbedaan harganya lumayan jauh, meskipun maskapainya sama-sama Air Asia dan transitnya pun sama-sama di Kuala Lumpur. Total harga tiket yang saya bayar untuk semua tiket sekitar Rp 1.500.000, sedangkan kalau saya beli tiket CGK-KBV langsung (bukannya masing-masing CGK-KUL, KUL-KBV) harganya sekitar Rp 2.500.000. Jauh banget kan selisih harganya? Mending saya pakai buat biaya makan di sana. 😂

Resikonya memang saya harus bermalam di bandara klia2 karena mengejar penerbangan ke Krabi yang paling pagi sekitar pukul 07.00 waktu setempat. Saya cuma sempat tidur sekitar 2 jam di ruang tunggu dekat gate P & Q Terminal 2 bandara klia2. Meskipun duduk di sofa, tapi lumayan lah bisa merem sebentar. Sebelum terbang ke Krabi, saya sempatkan mandi kilat di shower room yang terletak di toilet dekat situ. 😁

Kami sampai di Krabi International Airport sekitar pukul 08.00 waktu setempat. Meskipun bandara internasional, tapi ukurannya agak kecil, mungkin karena bukan bandara utama. Bahkan duty free-nya pun very very small, nyaris seukuran kios-kios kecil di bandara klia2. 😂 Dari sana kami naik minivan yang akan mengantarkan kami ke Ao Nang, salah satu distrik di wilayah Krabi yang cukup terkenal karena keindahan pantainya, di situlah kami memilih lokasi hotel. Ada beberapa opsi kendaraan yang bisa kita pilih untuk menuju ke lokasi hotel dari bandara. Kami memilih minivan karena harganya paling murah, hanya 150 baht (sekitar Rp 67.500 dengan asumsi kurs 1 baht = Rp 450). Kalau memilih naik taksi memang bisa lebih cepat sampai karena taksi nggak perlu ikut mengantar tamu-tamu lain ke lokasi hotelnya, namun biayanya cukup mahal 500 baht (sekitar Rp 225.000).

Paradise Hotel tempat kami menginap. Sumber foto: Agoda.

Kesan saya ketika sampai di kawasan Ao Nang adalah... sepi banget! 😂 Serius, untuk ukuran wisata pantai, Ao Nang ini nggak se-hectic Senggigi, Gili Trawangan, atau mungkin Kuta (maaf ya saya belum pernah ke Kuta sih, pernahnya ke Lombok doang 😂). Mungkin karena kami sampai di sana masih relatif pagi, sekitar pukul 09.00 jadi kebanyakan toko dan restoran lokal belum buka. Apalagi para bule-bule itu pasti masih tidur karena malamnya habis party, mungkin lho ini. 😝 Saya dan Nuni akhirnya cuma keliling sebentar cari sarapan sambil lihat-lihat toko souvenir, lalu sekitar jam 10.30 kami kembali ke hostel untuk istirahat karena semalam sama-sama kurang tidur. Kami terbangun sekitar jam 02.00 dalam keadaan lapar, padahal sebelum tidur kan baru aja makan. 😂 Mandi sebentar lalu ganti baju, kami pun siap menjelajah pesisir pantai Ao Nang!

Sebenarnya, ada beberapa kawasan wisata pantai yang bisa dipilih di wilayah Krabi. Selain Ao Nang, yang cukup terkenal ada Railay Beach dan juga Noppharat Thara Beach. Awalnya, saya dan Nuni memesan hotel di kawasan Krabi Town, agar lebih dekat ke pusat kota. Tapi setelah mengobrol dengan seorang kawan yang pernah berkunjung ke Krabi, dia merekomendasikan untuk memilih penginapan di sekitar Ao Nang Beach. Pantainya cukup indah, dekat dengan pusat keramaian khas wisatawan tapi juga nggak terlalu hectic. Sayangnya agak sulit menemukan hotel di Ao Nang Beach  yang masuk ke budget kami, tapi beruntung kami menemukan Paradise Hotel. Biaya penginapan untuk 2 malam hanya Rp 477.000,- sudah termasuk satu kamar double bed dengan kamar mandi dalam & dapat kipas angin, cocok lah buat budget traveler macam kami ini. Dengan budget segitu yang lokasinya dekat pantai, paling-paling kami cuma dapat kamar dorm campuran, sedangkan kami lagi nggak kepengen berbagi kamar sama siapapun. 😂 Apalagi habis basah-basahan di pantai, eeew pasti nggak nyaman banget kan. Walaupun resikonya, kami harus perang melawan sekawanan kecoak di kamar mandi yang bikin kami jerit-jerit tengah malam. Huffft, agak disayangkan sih. Kalau nggak ada kecoak, mungkin saya rela kasih rating 7,5/10 untuk Paradise Hotel ini. Tapi karena ada insiden kecoak, cukup saya kasih rating 6/10 aja ya. 😂

Sore hari itu kami berjalan menyisiri pantai Ao Nang. Sepanjang jalan cuma kelihatan beberapa bule yang lagi berjemur atau sekedar berenang santai di pinggir pantai. Trotoar di sepanjang jalan menuju pantai cukup lebar dan nyaman dilewati pejalan kaki, mengingatkan saya dengan suasana di Malioboro. Hanya saja di sini kios-kiosnya berjajar rapi di pinggir jalan, trotoar yang cukup lebar membuat kita leluasa berjalan dan nggak sampai sikut-sikutan dengan pejalan lain. Dan yang bikin happy, setiap beberapa puluh meter ada tong sampah serta trash bag yang diletakkan di pinggir jalan. Makanya kawasan ini bersiiiiiih banget, pokoknya jauh dari kesan kumuh. Saya juga nggak kebingungan harus buang sampah ke mana karena hampir di setiap sudut ada trash bag. Wah, Indonesia harus belajar banyak nih dari Thailand.

Pantai Ao Nang ini adalah pantai sunset, meskipun saya nggak tau soal itu sebelumnya, tapi saya langsung kegirangan ambil tripod dan memotret dari pinggir pantai, bersyukur banget bisa menyaksikan sunset yang indah dari pantai Ao Nang. Sebetulnya, kondisi pantai sore itu lumayan ramai. Banyak pengunjung pantai yang berlomba-lomba pengen selfie paling depan. Hadeeeeh ~ 😣 #tepokjidat. Saya pun harus pinter-pinter ngatur angle dan timing supaya bisa mendapatkan foto pantai sekaligus sunset yang bersih tanpa ada wujud manusia. 😂

Golden hour di pantai Ao Nang. No filter needed!

Untuk urusan makanan halal kita nggak perlu khawatir karena komunitas Muslim di Krabi ini cukup banyak. Bahkan di sana ada beberapa mesjid besar yang jadi daerah tujuan wisata, walaupun saya nggak sempat ke sana sih. Di sekitar pantai Ao Nang ada banyak restoran lokal yang menunjukkan logo halal. Mulai dari restoran seafood, Thai-food, Indian-food, sampai Arabian-food juga ada. Hari pertama kami di Krabi, kami menikmati makan malam di PS Cafe & Restaurant yang menyajikan makanan khas Thailand. Saya memesan nasi goreng tom yum yang rasanya agak pedas dan kaya akan bumbu rempah, serta traditional spring roll yang harga per porsinya masing-masing 95 baht (sekitar Rp 42.750,-). Dari segi harga, harus saya akui biaya hidup di Krabi memang lebih mahal dibandingkan Bangkok sih. Di Krabi biaya sekali makan berat di restoran berkisar antara 100-200 baht (sekitar Rp 45.000 - Rp 90.000). Apalagi kalau makan seafood, harga berkisar antara 200-300 baht (sekitar Rp 90.000 - Rp 135.000). Sedangkan kalau mau lebih murah bisa makan di food stall dengan kisaran harga 40-80 baht (sekitar Rp 18.000 - Rp 36.000). Bandingkan dengan biaya hidup di Bangkok, dengan nominal yang sama mungkin kita udah bisa beli beberapa jenis makanan sampai perut begah. 😂 Tapi harus saya akui, makanan lokal Thailand itu nggak ada yang nggak enak! 😂 Aseli deh, saya cobain berbagai makanan mulai dari jajanan kaki lima sampai restoran tepi laut, semuaaaaaanya enak! 😋

Beberapa menu restoran halal yang saya datangi.

Saran saya, selama di Thailand jangan coba-coba makan di restoran fast food franchise deh. Saya nggak tau sih franchise yang lain gimana, tapi saya sempat makan B*rg*r K*ng yang ada di kawasan Ao Nang karena waktu itu sebagian besar warung makan belum buka di bawah jam 10 pagi, sumpah harganya mahal banget astaga. 😓 Saya dan Nuni sengaja milih makan di situ karena bingung, warung makan rata-rata masih tutup, kalau pun ada yang buka hanya beberapa restoran yang dari luar tampak mahal. Karena takut zonk makanya kami memilih restoran fast food, yang ternyata malah jauh lebih zonk. Bayangkan, untuk menu breakfast paling murah yang isinya cuma orange juice (gelasnya kecil banget nggak sesuai gambar 😑), hash brown potato, omelette, dan daging burgernya aja (itu pun tipis), kami harus membayar 159 baht (sekitar Rp 71.000) per porsinya. Astaga. Kalau bukan karena udah kelaparan belum makan dari semalam, nggak bakal deh kami mau makan di situ. Cukup sekali itu aja kami salah pilih tempat makan, selebihnya sih kami puas banget! 😋

Nasi goreng tom yum super pedas tapi enak!
Oiya, karena kami berencana mengambil paket tur island-hopping untuk hari kedua, kami pun menghabiskan sore itu dengan berkeliling mencari paket tur dengan penawaran terbaik dan tentunya sesuai budget. 😂 Sebelum hari keberangkatan, kami udah lihat-lihat berbagai website yang menawarkan paket tur island-hopping, rata-rata kisaran harganya di atas 1000 baht (sekitar Rp 450.000). Sempat mau pesan, tapi saya baca di beberapa blog justru banyak yang menyarankan lebih baik pesan paket tur langsung di Krabi saja, karena biasanya malah lebih murah ketimbang pesan melalui website. Kami menyusuri kios-kios yang menampilkan papan harga paket tur, kok ya nggak nemu yang murah. Setelah bolak balik beberapa kali, sampailah kami di kios yang dijaga oleh mbak-mbak Thailand berkulit hitam manis dengan perawakan mirip Atun adiknya Bang Doel (duh kan jebakan umur 😂). Cara penyampaiannya lucu banget, ngomongnya agak nyablak dengan bahasa Inggris khas Thailand. Karena saya dan Nuni sama-sama nggak mau snorkeling, si mbak itu menyarankan kami mengambil paket tur yang ke Hong Island aja, karena kegiatan snorkeling-nya lebih sedikit dibanding paket lain. Untuk paket tur ke 4 pulau, kami cuma perlu membayar 700 baht (sekitar Rp 315.000) dengan menumpang speedboat! Wow ~ 😲😍 Di kios-kios lain, apalagi yang di website, harga segitu paling cuma bisa naik long-tail boat (kapal tradisional Thailand) yang waktu tempuhnya lebih lama. Kami sampai nanya berkali-kali apa benar ini paket untuk speedboat dan bukannya long-tail boat? Habis rasanya kok too good to be true! 😂😂😂

Well, sampai di sini dulu ya cerita perjalanan hari pertama saya di Krabi. Karena hari kedua tampaknya akan terlalu panjang untuk diceritakan di sini, sampai jumpa di posting-an berikutnya![]

Comments