Sandang, Pangan, Liburan!

Menurut kalian, seberapa sering sih normalnya seseorang liburan? Sekali setahun? Dua kali setahun? Tiga kali? Empat kali? Setiap bulan?

Saya nggak pernah bener-bener mikirin hal ini sih. Tapi sepulangnya dari trip singkat ke Singapura akhir bulan Agustus lalu, saya baru sadar, ternyata musim liburan buat saya selalu terjadi antara bulan Februari/Maret dan Juli/Agustus setiap tahunnya. Which means, enam bulan adalah batas toleransi saya sebelum dilanda demam piknik. Hahaha...

Dimulai dari bulan Februari 2015, saya trip ke Makassar sebenernya untuk jadi pemandu dari pemenang lomba. Tapi karena itu kali pertama saya ke Makassar, ya bisa dibilang semi-liburan. Lalu bulan Agustus 2015, saya trip singkat ke Pulau Pahawang di Lampung, ikutan open trip dengan jumlah peserta sekitar 30 orang. Kebetulan waktu itu baru putus (meh) dan kata teman yang orang Padang kalau mau putus ‘sirep’-nya, Ani harus pergi keluar pulau, so I chose Lampung instead. Hahaha... Well it’s really worked, you know!

Kastil di Universal Studio Singapore

Lalu bulan Maret 2016 saya trip singkat juga ke Yogyakarta. Di tahun yang sama bulan Agustus saya trip ke Surabaya. Well, bukan sepenuhnya liburan sih, sebenernya ke sana untuk urusan pekerjaan, tapi saya extend sehari untuk menikmati suasana kota Surabaya sampai ke Madura, jadi bisalah dihitung liburan. Bulan Februari 2017, secara impulsif saya pesen tiket Jakarta-Kuala Lumpur dan langsung ngehubungin Nuni, teman saya yang menetap di sana. Trip ke Singapura bulan lalu juga buah dari keimpulsifan saya dan Nuni yang penasaran karena belum pernah ke Universal Studio Singapore (USS). Hahaha...

I know some of you might be thinking, “Yailah, kayak gitu doang lo sebut liburan? Liburan mah ke Bali, ke Lombok, atau ke Maldives sekalian.” Well, I don’t care. As long as you’re going on a trip for certain reasons and you’re having fun, no matter how far (or close) you go, you can call it whatever you want.

Buat saya pribadi, liburan masih ada di kategori kebutuhan tersier. Nggak terlalu mandatory kayak sandang, pangan, papan; tapi kalau bisa terpenuhi, niscaya akan bikin hidup lebih asique. Liburan nggak mesti ke luar negeri, liburan nggak mesti pergi jauh, nginep di hotel mewah, atau apalah kayak yang ada di Instagram. Berliburlah sesuai kemampuan. Mampunya ke tempat yang deket-deket dulu, ya monggo. Pasti banyak tempat bagus di sekitar kita yang menanti untuk dieksplor. Mampunya ke luar kota yang masih satu pulau, that’s great too! Saya sendiri aja sampe sekarang masih belum kesampaian mau ke Dieng, Bromo, Ijen, & Menjangan. Sedih ya? Udah lihat-lihat price list di beberapa penyelenggara open trip sih, soalnya kalau bener-bener soliter yang ada malah nyusahin diri sendiri. Nggak ada waktu buat cuti atau susah dapet izin dari kantor? Coba yang one day trip aja, ada banyak kok yang ngadain. Saya bicara dalam konteks nggak punya teman yang bisa diajak jalan ya, makanya saya menyarankan untuk ikut open trip. Kalau punya sahabat dekat yang solid dan mau diajak liburan bareng, ya rencanain aja sama mereka.

To be honest, kalau ibarat cowok, saya kayak yang telat puber. Sementara teman-teman saya semenjak kerja udah bolak-balik liburan secara rutin sebelum umur 25 tahun, di umur segitu saya masih struggling gimana caranya bertahan sampai gajian berikutnya. Lewat dari umur 25 tahun, kebanyakan udah mulai kepikiran buat menikah atau investasi jangka panjang. Bukan berarti saya nggak kepikiran ke arah sana. Saya percaya, setiap orang punya jalan dan waktunya masing-masing. Hanya karena timeline saya agak sedikit tertinggal di belakang teman-teman yang lain, bukan berarti saya gagal. My life has turned upside down in the last five years. And I bet there'll be so much more surprises coming my way. :)

After all, esensi dari liburan adalah bersenang-senang, jadi ya terserah orang mau bilang apa, just do what you want to do. :)

Comments

  1. Halo, Rizki. aku baca beberapa artikel mu, menarik banget. Oh ya kamu sering solo traveling? maksud ku kamu suka ikut open trip gitu? Gimana rasanya? Rasanya liburan sendirian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Wulan, makasih udah mampir ya.. :D

      Nggak bisa dibilang sering juga sih, hehe... Aku ikut open trip baru 3 kali kok. Sisanya jalan sendiri tapi biasanya di tempat tujuan ada kenalan yang bisa diajak jalan bareng. Jadi nggak solo-solo banget.

      Solo traveling itu ada enaknya ada nggak enaknya, hehe... Kalau buat introvert kayak aku, solo traveling bisa jadi semacam quality time buat diri sendiri, jauh dari orang yang kita kenal. Nggak enaknya ya walaupun nggak ada teman ngobrol, tetep aja susah buat buka obrolan sama orang asing atau orang lokal yang ditemui di perjalanan. :D

      Delete

Post a Comment