Berangkat dari Singapura, Pulang Lewat Malaysia? Bisa! (Part II)

Marina Bay Skyline

Yak, sesuai janji saya di postingan sebelumnya, saya mau melanjutkan cerita trip Singapura-Malaysia bagian kedua. Salah satu keputusan yang nggak saya sesali saat trip ke Singapura kemarin adalah memilih Meadows Hostel sebagai tempat berlabuh. Hehehe... Kebetulan Nuni yang bertugas pesan hotel, kalau nggak salah dia pesan lewat Hotels.com dengan harga 95 ringgit (sekitar 150 ribu) untuk 2 orang. Sebenarnya saya anaknya nggak neko-neko dalam memilih penginapan. Apalagi waktu saya traveling sendirian di Surabaya, meskipun waktu itu difasilitasi oleh kantor, ketimbang tidur di hotel yang agak bagus saya lebih memilih tidur di hostel dorm karena saya anaknya penakut kalau harus tidur sendirian. Hahaha...

So far, udah dua kali saya menginap di hostel dorm tapi selalu yang model kapsul (bukan tempat tidur tingkat biasa, melainkan ada sekat dan tertutup tirai), alhamdulillah saya nggak pernah mengalami hal yang nggak enak. Yang penting tetap waspada terhadap barang bawaan dan manfaatkan fasilitas loker untuk menyimpan barang berharga. Meadows Hostel yang kami tempati sebenernya agak anomali, karena lingkungan sekitarnya bukan tempat lazim bagi backpacker. Kami cukup beruntung bisa dapat hostel bagus, bersih, dekat stasiun MRT, sudah termasuk sarapan pula dengan harga di bawah 15 SGD.

Bagian dalam Meadows Hostel (Source: Booking.com)

Anyway, di hari kedua ini jadwal kami agak sempit, karena jam 14.30 kami harus naik bus yang akan mengantar kami dari Singapura ke Kuala Lumpur. Niat awal, kami mau ke Merlion Park sambil mengitari Marina Bay, makan es krim di Orchard Road, lalu ke Mustofa untuk belanja oleh-oleh, baru kembali ke hostel untuk mengambil ransel dan menuju ke pool bus di Golden Mile Complex. Kenyataannya? Marina Bay ternyata terlalu luas untuk dilewati dengan berjalan kaki dan terlalu banyak spot foto cantik untuk diabaikan begitu aja. Prediksi awal paling lama cuma 1,5 jam aja kami mengitari kawasan itu termasuk foto-foto di Merlion Park, realitanya molor sampai hampir 3 jam! Hahaha...

Untuk menghemat waktu, akhirnya kami batal ke Mustofa. Dari Merlion Park kami naik MRT ke Orchard Road untuk makan es krim (ini ngidamnya Nuni lho, bukan saya, hehehe… :p), sedangkan untuk belanja oleh-oleh kami mampir ke Lucky Plaza yang masih terletak di kawasan Orchard Road. Lagi-lagi, karena keasyikan belanja akibatnya kami harus berkejaran dengan waktu saat kembali ke hostel. Sambil bawa kantong belanjaan, kami setengah berlari menyusuri jalanan. Saya yang biasanya butuh waktu lama buat mikir harus naik MRT di jalur mana, belok ke mana, turun eskalator di mana; mendadak pintar multitasking dan bisa berpikir cepat. Memang ya, kita nggak pernah tau batas kemampuan kita kecuali saat di bawah tekanan. Hahaha…

Hijab street ala-ala di Orchard Road.
Sebenarnya, jarak antara Meadows Hostel dengan Golden Mile Complex nggak terlalu jauh, cuma sekitar 1,6 km. Untuk standar di Singapura, mestinya bisa dicapai dalam waktu 20 menit berjalan kaki. Tapi karena waktunya benar-benar mepet dan ransel kami lumayan berat, terpaksa kami sewa Uber. Agak nyesek sih, jarak cuma 1,6 km harus merogoh kocek 6,5 SGD (sekitar 65 ribu rupiah). Kalau di Jakarta, dengan uang segitu mungkin kita bisa naik Uber dari Jakarta Selatan sampai ke Jakarta Pusat. T^T

Sebelumnya saya udah pernah ke Kuala Lumpur, tapi menyebrang dari Singapura ke Kuala Lumpur dengan naik bus, well itu pengalaman baru buat saya. FYI, Nuni udah pesen duluan tiketnya lewat website, saya lupa apa nama website-nya. Sama halnya seperti di Indonesia, perjalanan Singapura – Kuala Lumpur dengan bus dilayani oleh beberapa perusahaan. Kita bisa memesan lewat website, mau naik bus dari perusahaan apa, jam berapa, dan durasi perjalanannya berapa lama. Di sini agak sedikit tricky, meski sama-sama jurusan Singapura – Kuala Lumpur, kayaknya tempat pemberhentian serta rute yang mereka lewati beda-beda, karena waktu tempuh setiap bus juga berbeda. Waktu tempuh tercepat sekitar 4 jam, namun ada juga yang keterangannya 5 jam, 6 jam, 8 jam, bahkan lebih dari itu. Dengan harga 18 SGD (sekitar 180 ribu rupiah), harga segitu termasuk yang termurah di antara harga bus lain. Kami agak takjub saat melihat bus yang akan kami tumpangi, karena ternyata busnya tingkat dua dengan formasi tempat duduk 2 – 1. Tempat duduknya pun dilengkapi sandaran kaki yang bisa dinaik-turunkan, dan ada mode kursi pijat walaupun pas dicoba cuma geter-geter aja. Hahaha… Sumpah saya norak banget karena ekspektasi saya paling cuma dapat bus antar kota-antar provinsi kayak di Indonesia yang duduknya sempit-sempitan formasi 3 – 2. Nggak taunya, dapat bus yang mevvah banget, alhamdulillah… :’)

Bagian dalam bus Transtar tingkat 2.
Tadinya juga saya pikir jembatan lintas laut yang menghubungkan Singapura dengan Malaysia itu kurang lebih sama seperti jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dengan Madura. Ternyata jembatan yang dikenal sebagai Tuas Second Link ini panjangnya nggak sampai 2 km, sedangkan Suramadu panjangnya lebih dari 5 km. Tips aja sih, ada baiknya kita nggak tidur dulu sebelum sampai di daratan Malaysia, soalnya kita masih harus melewati proses imigrasi di perbatasan dan mau nggak mau harus turun dari bus. Nggak mau kan lagi enak-enak tidur, diteriakin sama kondektur gara-gara kita baru bangun dan geraknya serba lelet? Kalau udah lewat dari perbatasan sih, mau tidur sambil nyeker juga terserah.

Perjalanan lintas negara yang kami lewati makan waktu hampir 7 jam padahal seharusnya hanya sekitar 5 jam. Agak di luar dugaan sih karena ternyata di tol ada kecelakaan, akibatnya terjadi kemacetan panjang sampai berkilo-kilo meter. Kami sampai di Kuala Lumpur sekitar pukul 21.30 waktu setempat dan langsung meluncur ke KL Sentral dalam keadaan lapar. Iya, saya dan Nuni yang doyan makan, selama di Singapura justru malah kuat nggak makan seharian, paling cuma diganjal roti dan air putih. Makanya begitu sampai di KL Sentral yang pertama kami lakukan adalah makan besar. Lupakan sejenak deh aturan nggak boleh makan besar di atas jam malam, karena saya tau beberapa jam berikutnya akses terhadap makanan pasti susah.

Kami sampai di apartemen Nuni yang terletak di Petaling Jaya tepat jam 12 malam. Rasanya badan campur aduk; capek, ngantuk, pegal, lengket, panas, dsb. Belum lagi harus packing ulang barang-barang bawaan supaya masuk semua di ransel saya yang cuma 30 liter. Usai mandi dan packing, saya sempatkan tidur sebentar walau cuma 1 jam, karena jam 3 pagi saya harus mengejar bus pertama menuju KLIA. Meski saya udah bangun tepat waktu, pesan GrabCar di jam segitu ternyata bukan perkara gampang. Hampir 20 menit saya nunggu di lobi apartemen dan nggak ada satu pun GrabCar yang nyantol. Saya udah ketar ketir karena busnya jalan tepat jam 03.30 pagi. Kalau saya melewatkan bus yang itu, jadwal bus berikutnya baru ada jam 05.00, gimana caranya saya bisa ngejar pesawat jam 07.40?

Begitu dapat GrabCar yang mau pick-up, kami langsung minta driver-nya buat ngebut biar gimana caranya bisa sampai di Paragon Mall dalam waktu kurang dari 10 menit. Biasanya saya paling gampang panik kalau berhubungan sama ketepatan waktu, tapi entah kenapa waktu itu saya cuma bisa pasrah dan ketawa-ketawa aja, mungkin efek kurang tidur makanya pikiran agak gesrek. Hahaha…

Perjalanan menuju bandara dini hari itu relatif lancar, jadi bus yang saya naiki pertama-tama berhenti dulu di KLIA2, baru setelah itu menuju perhentian terakhir di KLIA dengan biaya 12 ringgit (sekitar 36 ribu rupiah). Saya sampai di KLIA sekitar jam 04.30, tadinya saya pikir saya bakal kecepetan dan punya sisa waktu banyak untuk leyeh-leyeh di ruang tunggu. Ternyata… antrian check in di konter singa terbang aja makan waktu 2,5 jam! Dari jam 5 saya baru bisa melewati konter imigrasi sekitar jam 7. Yang saya nggak habis pikir, kenapa sih mereka nggak memberlakukan web check in untuk meminimalisir antrian kayak gini? Dari awal saya beli tiket saya langsung ancer-ancer untuk web check in. Menurut keterangan di website resminya, check in baru bisa dilakukan 24 jam sebelum keberangkatan. Oke, saya tunggu. Tapi begitu tiba waktunya, keterangan yang saya baca ternyata penerbangan ini cuma bisa check in langsung di bandara. Astaga, kesalnya bukan main.

Antrian mengular di konter check in.
Selama mengantri berjam-jam saya udah ngobrol sama entah berapa penumpang saking bosannya. Belum lagi kelakuan khas orang Indonesia yang suka potong antrean seenaknya. Tapi kondisi antrean pun udah terlalu ruwet untuk diperbaiki tanpa bantuan petugas. Di sana saya ketemu sama pasangan suami istri TKI yang mau pulang ke Indonesia tapi beda arah. Sang suami langsung terbang ke Surabaya, sedangkan istrinya transit di Jakarta lalu terbang ke Lampung karena harus mengurus sesuatu. Mereka berbaik hati memperbolehkan saya numpang nyimpen ransel di troli mereka. Mungkin mereka kasian liat cewek sendirian bawa ransel kayak tempurung kura-kura, sedangkan antrean geraknya cuma selangkah-selangkah.

Lewat dari konter imigrasi, kami jalan bertiga sampai akhirnya berpisah karena sang suami menuju Gate C 31, sedangkan kami harus ke Gate C 13. Saya bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan lain apalagi kepo sebenernya, jadi saya agak awkward setelah pisah dari suaminya, si istri jalan tapi nggak berhenti nangis. Sedangkan waktu juga udah kelewat mepet untuk ngajak dia duduk dan menenangkan diri karena gate udah hampir ditutup. Yang ada saya malah jadi pengen ikutan nangis juga padahal saya nggak tau duduk perkaranya. :’D

Walaupun perjalanan pulang itu agak drama, alhamdulillah saya mendarat dengan selamat di Bandara Soetta sekitar jam 9.40 WIB. Dua puluh menit saya menunggu, bus Damri tujuan Lebak Bulus akhirnya datang juga dan–tanpa dikasih kendor–saya langsung meluncur ke kantor dalam keadaan masih bawa ransel isi baju kotor. Teman-teman kantor saya sampai geleng-geleng kepala, takjub sama energi saya yang pamit Jumat sore, Senin pagi udah duduk lagi di kantor siap lanjut kerja. Ya mau gimana lagi? Namanya juga darah muda yang masih berapi-api, saya kerja juga supaya bisa beli tiket liburan lagi toh? Hehehe…

Your 20's are your selfish years. Old enough to make the right decisions and young enough to make the wrong ones. Be selfish with your time; travel, explore, learn something new, fall in and out of love, be ridiculous and silly, stupid and wild. Be 20-something!

Comments