Berangkat dari Singapura, Pulang Lewat Malaysia? Bisa! (Part I)

Sebenernya saya maju mundur mau sharing tulisan tentang trip ini. Karena, aduh please deh Singapura sama Malaysia itu so so mainstream, orang-orang udah biasa aja ke sana, apalagi yang mau ditulis? Tapi sejujurnya, sebelum saya pergi ke sana pun saya masih blog-walking dan baca-baca pengalaman blogger lain. Dari setiap blog yang saya baca, selalu ada hal baru yang saya pelajari, jadi ya kenapa saya nggak nulis pengalaman saya sendiri? Siapa tau juga ada hal lain yang bermanfaat buat teman-teman yang baru pertama kali menginjakkan kaki ke sana. So here we go!

Pemandangan dari Marina Bay Sands, Singapore

Perjalanan saya ke Singapura digagas sama Nuni, travel buddy saya yang menetap di Kuala Lumpur. Tadinya kami sempat mau berkunjung ke Bali, tapi karena satu dan lain hal kami putuskan ke Singapura aja. Seperti trip saya yang sebelumnya, saya selalu mengambil penerbangan malam di hari Jumat, jadi saya bisa tetap masuk kantor seperti biasa. Untuk liburan kali ini, saya pakai maskapai singa terbang (sebuah kesalahan besar sebetulnya, jangan dicontoh ya). Lazimnya, saya ambil tiket pulang Minggu sore atau malam. Tapi saya cari-cari harga tiketnya mahal banget, nggak ada yang di bawah 900 ribu. Saya coba cari penerbangan Senin pagi, masih tetap mahal. Hiks... Akhirnya saya putar otak, gimana kalau saya pulang lewat Kuala Lumpur? Saya cari-cari ternyata tiket yang murah dari Kuala Lumpur itu ada di Senin pagi. Baiklah, namanya juga mengobati penasaran kan? Nggak promo pun nggak apa-apa. Jadilah saya beli tiket singa terbang pulang pergi dengan rute CGK-SIN dan KUL-CGK. Total biaya tiket sekitar Rp 1.035.000,- pulang pergi, saya pesan lewat Tiket.com.

Saya dan Nuni sepakat untuk menekan biaya perjalanan serendah mungkin, jadi opsi untuk hotel pun terbatas pada tipe dormitory. Nggak perlu saya kasih tau lah ya, Singapura itu negara yang mahal, banget, sumpah deh amit-amit mahalnya. Berhari-hari kami cari hostel dorm yang murah, lokasinya strategis, tapi rating-nya juga nggak rendah-rendah amat. Pilihan pun jatuh pada Meadows Hostel yang terletak di kawasan Lavender. Jaraknya pun nggak terlalu jauh dari Stasiun MRT Lavender, jalan kaki hanya sekitar 10 menit. Sebetulnya kami masih berusaha mencari hostel dorm yang female only, tapi harganya jauuuuh di atas hostel dorm campuran. Ya sudah lah, dua gadis berjilbab ini pun pasrah tidur sekamar rame-rame sama cowok dari berbagai negara. Hahaha....

Karena tujuan utama kami ke Singapura adalah untuk ke Universal Studios Singapore (USS), kami cari tiket murah lewat aplikasi Traveloka. Lumayan lho, kalau beli tiket on the spot harganya sekitar 750 ribu, tapi kami cuma bayar sekitar 540 ribu dengan memanfaatkan kode voucher. I love Traveloka! Selain untuk beli tiket USS, saya juga beli Singtel Hi!Tourist seharga 15SGD (sekitar 150 ribu rupiah) yang berisi paket data 4GB + 5GB khusus untuk social media + 500 menit panggilan lokal + 30 menit panggilan internasional. Well, fair enough... Kartu perdana ini aktif selama 5 hari, dan bisa diambil di beberapa lokasi pick up, salah satunya di Changi Airport. Kenapa saya nggak pakai paket internet dari provider Indonesia? Karena mahal dan nggak worth it. Kebetulan saya pakai Telkomsel pascabayar, jelas saya takut tagihan bakal membengkak kalau saya pakai international roaming. Paket roaming Telkomsel itu sekitar 125 ribu rupiah dan cuma dapat kuota 1GB saja. Hellooo, manalah cukup 1GB buat 3 hari? Apalagi saya internet freak. Jadi beli kartu Singtel adalah win win solution.

So, tiket pesawat udah, pesan hotel udah, tiket USS udah, kartu sim lokal juga udah. Tibalah saya di hari keberangkatan. Saya berangkat dari kantor yang terletak di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan, dan tiba di Bandara Soetta sekitar pukul 16.30 WIB. Pesawat saya dijadwalkan berangkat pukul 17.55 WIB. Tapi pasti udah ketebak dong: DELAY sejam setengah aja kok. Dari situ saya langsung hopeless sama perjalanan pulang nanti dan komat-kamit dalam hati nggak akan mau pake maskapai ini lagi.

Saya mendarat di Terminal 3 Changi Airport sekitar pukul 22.30 waktu setempat. Dari awal saya memang udah niat bakal tidur di bandara, demi menghemat budget. Sementara Nuni baru akan terbang dari Kuala Lumpur naik pesawat pertama keesokan harinya, jadi semalam suntuk saya berjuang melek sendirian. Sejujurnya, saya agak panik karena itu kali pertama saya ke Changi. Saya udah kelewat santai bakalan langsung dapet koneksi wifi bandara, sama halnya seperti di KLIA. Tapi ternyata, koneksi wifi di Changi ini agak ribet, harus masukin nomor kartu lama kita, sedangkan saya nggak mau nyalain Telkomsel sama sekali. Saya yang semula berniat nggak mau keluar dari imigrasi sampe pagi, terpaksa keluar imigrasi demi nyari booth Singtel untuk pick up kartu pesanan saya. Duh, selamat tinggal ruang tunggu yang nyaman. :(

McDonalds di Terminal 3 Changi Airport pukul 11 malam.

Keluar dari Terminal 3, saya langsung mendatangi McDonalds yang masih cukup ramai meski waktu menunjukkan hampir tengah malam. Saya pesan burger, kentang, serta minuman seharga 5 SGD dan langsung ambil posisi wuenak di pojokan. Berbeda dengan di KLIA2, di sini nggak ada yang ambil posisi wuenak tiduran. Beberapa orang ada yang tampak tidur, tapi posisi mereka masih lumayan proper, cuma nunduk di meja atau bersandar ke bangku. Kalau di KLIA2, waktu itu saya makan di Burger King, mereka bener-bener datang ke sana untuk numpang tidur. Jadi makanan dibiarin aja di meja, si empunya makanan selonjoran di sofa atau geletak di bawah pakai sleeping bag. Saya bersyukur ransel saya lumayan besar, tegak, dan empuk, jadi bisa saya jadikan sandaran hati untuk tidur. Memang nggak nyenyak sih, cuma tidur-tidur ayam, tapi lumayan lah.

Ransel Consina yang setia.
Yang saya kesal, begitu saya ketiduran agak pulas, sekitar jam 4 pagi saya kebangun dan mendapati makanan saya udah nggak ada di atas meja. Padahal kentang dan minumannya masih lumayan banyak. Astaga, kenapa mas-mas pelayan ini gesit banget sih bersihin mejanya? Padahal saya ada di meja itu, walaupun tidur posisi saya masih duduk kok. Huhuuu... Karena kesal, dan nggak enak juga masa di meja udah nggak ada makanan tapi saya masih duduk di situ, saya pun pindah ke bangku tunggu biasa di luar McDonalds.

Sekitar pukul 08.00 pagi, saya ketemu Nuni yang baru mendarat dari Kuala Lumpur. Kami berdua sama-sama nggak tidur semalaman dan nggak mandi, tapi demi foto liburan yang ciamik, kami dress up semaksimal mungkin di toilet bandara. Ganti baju, cuci muka, sikat gigi, dandan, pakai parfum, pokoknya apapun yang dibutuhkan untuk menghilangkan kesan nggak mandi dan nggak tidur. Hihihi... Dari Changi kami langsung ke Meadows Hostel yang terletak di kawasan Lavender dengan naik MRT. Karena Changi Airport dan Lavender berada dalam satu jalur yakni East West Line (jalur hijau), kami nggak perlu transit sama sekali, jarak sembilan stasiun ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit aja. Saya akui, peta MRT di Singapura ini jauh lebih mudah dibaca ketimbang peta LRT di Kuala Lumpur.

Singapore Tourist Pass
Oh iya, supaya lebih hemat, kami beli Singapore Tourist Pass yang bisa digunakan sepuasnya untuk naik MRT, LRT, dan bus. Ada 3 jenis kartu yang bisa dipilih: 1 hari seharga 10 SGD, 2 hari seharga 16 SGD, dan 3 hari seharga 20 SGD. Namun kita harus deposit uang 10 SGD sebagai jaminan yang bisa diambil saat mengembalikan kartu. Kalau nggak pakai Singapore Tourist Pass, kita harus mengeluarkan uang yang lumayan. Untuk sekali perjalanan ke beberapa stasiun aja harus bayar berapa dolar. Bayangin kalau kita muter-muter keluar masuk stasiun? Bisa abis di ongkos deh...

Di Meadows Hostel, kami cuma ngedrop ransel karena masih terlalu pagi untuk check in, syukurlah pihak hostel sangat kooperatif. Kami pun langsung meluncur ke Sentosa Island sekitar jam 9 pagi. Saya mau jujur, di perjalanan menuju USS ini ada pengalaman yang kurang mengenakkan: SAYA KETIDURAN DI MRT! Dari Stasiun Lavender kami harus transit di Stasiun Outram Park, lalu melanjutkan perjalanan ke Stasiun Harbour Front. Dari situ kami bisa naik Sentosa Express yang menuju ke USS. Sebetulnya dari Lavender ke Outram Park jaraknya nggak jauh, hanya sekitar 5 stasiun. Bodohnya, begitu dapat duduk saya yang niatnya cuma memejamkan mata sebentar nggak taunya malah ketiduran beneran. Saya sempat terbangun beberapa kali, saya tanya Nuni kita sudah sampai mana. Tapi saat kami lihat layar penunjuk stasiun, kombinasi antara linglung, setengah sadar, kepala pusing karena belum tidur semalaman, bikin kami salah baca peta. Kami baru sadar setelah melewati Stasiun Jurong East, dan itu artinya kami kelewatan 9 stasiun! Rencana semula paling lambat jam 10.30 kami mendarat di USS ambyar sudah. Kami pun turun di Stasiun Chinese Garden dan naik MRT balik. Kali ini, kami nggak mau duduk sama sekali karena takut kesalahan yang sama kembali terulang.

Peta MRT & LRT di Singapore.

Saya dan Nuni nggak berhenti ketawa sepanjang perjalanan ke USS itu. Iya, kami menertawakan kebodohan yang rauwis-uwis. Setiap kali berurusan sama MRT atau LRT, nggak di Kuala Lumpur, nggak di Singapore ada-ada aja kejadian konyol gara-gara kecerobohan kami berdua. Kami baru sampai di USS sekitar jam 12 siang, yah bisa dibilang kami rugi dua jam padahal niatnya mau maksimalin betul-betul dari jam 10 sampai jam 8 malam karena udah bayar mahal. Tapi ya mau gimana lagi?

Pengakuan saya berikutnya: sesungguhnya Dunia Fantasi masih lebih seru daripada Universal Studios Singapore. Hehehe... Saya agak kecewa sih, soalnya temen saya bener-bener promosiin USS habis-habisan. Dia bilang USS jauuuuh lebih seru daripada Dufan. In fact, iya sih dalam beberapa hal USS lebih baik dari Dufan. Konsep wahananya, ketepatan perkiraan waktu tunggu, dan wahananya juga tampak lebih baru dan sangat terawat. Tapi kalau dari variasi permainan, menurut saya Dufan masih lebih variatif. Wahana yang diperuntukkan bagi adrenaline junkie di Dufan ada Kicir-Kicir, Halilintar, Tornado, Histeria, dan Kora-kora. Kelima wahana legendaris itu rasanya udah cukup buat bikin orang mendadak ingat Tuhan. Sedangkan di USS, menurut saya wahana yang bener-bener memacu adrenalin cuma Battlestar Galactica. Ada dua jenis wahana di arena ini yang serupa tapi tak sama, yakni Human dan Cylon. Konsep dasarnya mirip seperti wahana Halilintar di Dufan, tapi memang lebih panjang track-nya dan lebih lama durasinya. Yang membedakan, wahana Human ini track-nya ada di bawah kaki kita, sedangkan wahana Cylon track-nya ada di atas kepala kita. Which means, selama naik wahana Cylon kaki kita menggantung dan bisa langsung ngeliat ke bawah. Saya yang penakut cuma berani merem sepanjang naik wahana ini sambil komat-kamit manggil Ibu. Hahaha... Itu aja sih yang paling berkesan selama di USS.

FYI, untuk menaiki wahana Battlestar Galactica ini, pengunjung nggak diperbolehkan sama sekali untuk bawa barang. Entah itu tas, dompet, kamera, handphone, barang sekecil apapun yang beresiko lepas dari badan kita, semuanya wajib dititipkan di loker. Jangan coba-coba menyelundupkan barang bawaan ya, soalnya untuk bisa masuk antrian ada petugas yang memeriksa kita dengan alat detektor logam. Tapi tenang aja, disediakan penitipan barang gratis di dekat kedua wahana itu kok. Penyewaan gratisnya hanya sekitar 100 menit pertama, selanjutnya kita harus bayar. Memang agak bete sih, soalnya rata-rata waktu tunggu di wahana ini antara 60 sampai 90 menit, jarang banget waktu tunggunya di bawah 60 menit. Jadi bersiaplah untuk quality time atau ngobrol santai dengan sesama pengunjung karena kita nggak bisa main handphone sama sekali. Hahaha...

Well, untuk sekarang sampai di sini dulu kayaknya, saya akan melanjutkan cerita perjalanan pulang lewat Malaysia di postingan berikutnya. Thank you for stopping by!

Comments

  1. Backpack Consina nya berapa liter itu kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Consina yang 30 liter aja kok, nama tipenya Grand Canyon. :)

      Delete
    2. Terima kasih kak. Btw kakak cantik :)

      Delete

Post a Comment