Apa yang Harus Dipertimbangkan sebelum Membeli Kamera Pertama Kali?

Disclaimer: Saya BUKAN fotografer apalagi pakar kamera. Saya cuma photography enthusiast yang pengen sharing pengalaman membeli kamera pertamanya, jadi harap maklum kalau pembahasannya sangat dangkal.

Membeli kamera pertama selalu membawa dilema tersendiri. Bagi sebagian orang, menggelontorkan budget sekian juta untuk benda kecil ini mungkin bukan masalah. Tapi bagi sebagian yang lain pertanyaannya mungkin, ambeh naon (re: buat apa)? Kan handphone sekarang juga kameranya udah canggih-canggih nggak kalah kayak kamera DSLR. Bener juga sih... Tapi jangan lupakan bahwa setiap benda atau komoditi selalu punya nilai objektif dan nilai subjektif. Nilai objektif itu jelas, kualitas yang dilihat dari kondisi benda yang sebenarnya. Meanwhile nilai subjektif berkaitan erat dengan subjek yang menilai benda tersebut. Bagi saya, dan rekan-rekan sesama photography enthusiast, sebuah kamera nggak bisa diukur dengan label mahal dan murah aja. Sebelum menilai kamera itu mahal atau murah dan menentukan kamera apa yang cocok dengan kita, ada banyak check list yang harus dijawab. Misalnya, beli kamera tujuannya untuk apa, budget-nya berapa, objek apa yang akan sering difoto, seberapa sering frekuensi pemakaiannya, fitur apa yang kalian utamakan wajib ada di dalam sebuah kamera, dan masih banyak lagi. Pertanyaan itu pula yang saya ajukan kepada diri saya sendiri sebelum memutuskan untuk meminang si Limpy (panggilan kesayangan saya buat si Olympus, heheu ~ ).


Olympus Pen E-PL7 (Source: Instagram @olympus_pengeneration)

Well, ini jawaban saya dari daftar pertanyaan di atas ditambah pertanyaan lain yang mungkin relevan buat teman-teman. :)

1. Beli kamera tujuannya untuk apa? Kebetulan setelah sekian lama saya mulai seneng motret lagi, jadi pengen punya kamera buat belajar motret yang agak serius.
2. Objek apa yang akan sering difoto? So far, saya paling suka motret bunga, binatang, action figure, dan objek-objek random yang saya temukan. To be honest, I'm not really into portrait or street photography (ini dulu sih, sekarang udah mulai suka kok :p).
3. Seberapa sering frekuensi pemakaian kameranya? Karena cuma untuk menyalurkan hobi, mungkin 1-2 minggu sekali kalau lagi ada waktu senggang untuk motret.
4. Fitur apa yang kamu utamakan wajib ada di dalam sebuah kamera? Karena saya pengen kamera yang ringan dan ringkas, dari awal saya udah tau bakal pilih kamera mirrorless alih-alih DSLR. Saya mau kamera yang udah mendukung koneksi nirkabel supaya mempermudah transfer hasil foto. Pengennya sih yang udah support Optical Image Stabilization (OIS) karena saya belum mampu beli tripod. Terus kalau bisa yang daya tahan baterainya lumayan lama supaya nggak cepet lowbat. Saya juga mau yang review hasil videonya menurut pakar kamera udah cukup bagus. Oh saya juga mau yang layar LCD-nya bisa diputar dan touchscreen supaya lebih mudah menentukan titik fokus. Dipikir-pikir saya banyak maunya ya? Hahaha....
5. Apakah hasil fotonya akan dicetak atau hanya dipajang di galeri digital pribadi? Cuma buat dipajang di galeri pribadi, paling banter buat portofolio online. Soalnya enam bulan lalu saya nggak terpikir sama sekali akan ketemu klien yang mau pakai jasa saya. Hehehe...
6. Apakah ada keinginan untuk upgrade gear di kemudian hari atau cukup sampai sekedar punya? Ya jelas ada banget laah! Setelah mencicipi kamera sendiri untuk motret berbagai situasi, saya jadi gatel pengen nambah koleksi lensa fix. 
7. Apakah kamu tipe soliter atau punya circle yang juga suka fotografi? Kalau kamu tipe komunal, kamera apa yang paling banyak dipakai sama teman-teman kamu? Nah untuk pertanyaan pertama, saya tipe soliter; saya selalu jalan sendiri dan nggak berafiliasi dengan komunitas mana pun, jadi nggak ada istilahnya saya bisa pinjam-pinjaman gear kamera. Tapi, kalau kamu punya teman-teman komunitas sesama photography enthusiast, akan lebih bijaksana kalau kamu pertimbangkan untuk beli kamera yang satu merk dengan mereka. Hal ini akan mempermudah kamu untuk eksplor semua fitur dan fungsi kamera bersama mereka yang udah lebih berpengalaman. Selain itu juga kamu bisa saling pinjam gear dengan teman-teman yang koleksinya lebih lengkap. Mau nyoba lensa wide, macro, atau tele tapi belum ada budget buat beli sendiri? Pinjam aja dulu sama teman. Hehehe....
8. Berapa budget yang kamu punya? Saya tarik garis batas di angka 9 juta, segini aja udah bikin dompet meringis. Hiks... T^T

Sejujurnya, beberapa jawaban di atas udah ada yang mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Enam bulan berlalu, saya mulai kenal karakter kamera saya dan juga mulai memahami gaya saya sendiri. Sebelumnya saya nyaris clueless, dan itu cuma bisa dicari tahu dengan berani terjun, berani mencoba. So, dari awal saya udah tau kalau saya mau motret agak serius saya mesti punya lensa tambahan selain lensa kit. Jadi saya cari kamera yang dalam satu paket dapet 2 lensa supaya harganya lebih murah daripada beli lensa terpisah. Kandidat calon kamera pertama saya waktu itu: #1 Sony Alpha 5100 atau Sony Alpha 6000, tapi sayangnya kamera ini dua-duanya nggak ada yang dual lensa kit, jadi saya coret. Lalu kandidat kedua Fujifilm X-A3, harga masuk budget, ada versi dual lensa kit, tapi sayang menurut banyak review yang saya baca, fitur video di kamera entry level-nya Fuji itu nggak banget. Walaupun dari hasil foto, tone warna Fuji nggak perlu diragukan lagi lah, tapi saya tetap butuh kamera dengan fitur video yang reliable. #3 Panasonic Lumix GF9, sebetulnya kamera ini hampir menjawab semua keinginan saya, kecuali satu hal, daya tahan baterainya kurang lama. #4 Kandidat terakhir sekaligus yang akhirnya saya pinang: Olympus Pen E-PL7.

Waktu itu pertimbangan saya adalah review-nya Koh Alex (@aMrazing), karena dia pernah pakai Fujifilm juga Sony, tapi pada akhirnya dia berlabuh di Olympus OM-D E-M5 Mark II. Kalau dibanding sama Olympus Pen E-PL7 punya saya, kameranya Koh Alex itu flagship-nya Olympus sih, jauh banget memang kelasnya. Sebelum membeli Olympus, saya juga udah tau kekurangannya dia dari hasil research di berbagai komunitas fotografi. Di antaranya adalah Olympus itu begitu masuk Indonesia, entah kenapa harganya jadi lebih mahal ketimbang harga asli setelah dikonversi dari dolar. Udah gitu, kalau di tengah jalan mengalami kerusakan dan harus direparasi, spare part-nya Olympus agak susah didapat jadi harus nunggu agak lama bisa lebih dari sebulan. Oh ya, Olympus juga sensornya kecil, lebih kecil dari Fujifilm, Sony, Canon, atau Nikon yang kebanyakan menggunakan sensor APS-C. Hal ini penting untuk diketahui karena ukuran sensor akan berpengaruh terhadap hasil gambar, serta jenis lensa yang digunakan. Olympus dan Panasonic sama-sama menggunakan sensor Micro Four Thirds. Penjelasan soal sensor ini kayaknya lebih enak kalau teman-teman baca langsung dari website Infofotografi, soalnya di situlah saya belajar tentang dasar-dasar ilmu fotografi dari suhunya langsung. Hehehe....

Pada akhirnya, kalau budget kalian terbatas kayak saya, memang nggak ada kamera yang sempurna dan memenuhi semua keinginan kita sih. Mau nggak mau memang ada beberapa keinginan yang harus dikompromikan. Cuma kita sendiri yang tau, poin mana yang nggak terlalu penting dan bisa diabaikan, serta poin mana yang wajib banget ada bener-bener nggak bisa diganggu gugat lagi. Semua pasti butuh proses, nggak usah ngotot langsung beli kamera dengan fitur tercanggih apalagi kalau harganya di luar kemampuan kita. :)

Jadi, balik lagi ke pertanyaan sejuta umat: kamera yang bagus apa ya? Saya yakin deh, kalian mau tanya sama pakar kamera manapun, kemungkinan besar kalian malah akan ditanya balik. Hehehe... Yang perlu kita tanamkan dalam kepala, mau sebagus apapun kamera, yang menentukan kualitas foto tetap orang yang berada di balik lensa. Salam jepret! :)



PS: Kalau ada yang mau nambahin tips memilih kamera pertama, boleh banget lho share di kolom komentar. Sharing is caring![]

Comments