Fiksi: Jangan Sakiti Jingga Lagi



“Mbak? Mbak? Loh gimana sih, saya ajak bicara kok malah bengong. Tagihan saya gimana kelanjutannya? Saya keberatan kalau harus bayar sebesar ini!” Suara cempreng seorang wanita membuyarkan lamunanku. Astaga. Sudah berapa lama aku termenung?

Kurapikan berkas yang berserakan di atas meja untuk mengurangi ketegangan. “Mohon maaf, Ibu, saya minta waktu sebentar untuk berdiskusi dengan pimpinan saya.” Tanpa menunggu respon darinya aku pun bangkit, dengan sedikit terseok-seok aku berhasil mencapai ruang belakang.

Tanganku sedikit gemetar, berusaha mengingat ocehan terakhir pelangganku sebelum aku memasuki kondisi trans. Ya, Ibu tadi marah karena tagihan nomor pascabayarnya membengkak selama ia bepergian di Eropa. Ah, salahnya sendiri, main pergi saja ke luar negeri, membawa ponsel canggih tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan penyedia jasa telekomunikasi. Satu lagi pelanggan dari kelas menengah yang berlomba-lomba membeli ponsel paling canggih namun tidak membekali diri dengan informasi terkini seputar teknologi, alias gaptek.

Aku sadar performaku di meja pelayanan menurun drastis sejak sepekan terakhir. Menangani kasus sepele saja aku butuh waktu lebih lama dari standar yang telah ditetapkan. Aku, si budak korporat yang memenangi penghargaan sebagai karyawan teladan selama tiga bulan berturut-turut, pada akhirnya menyeret rekan sejawatku untuk bekerja lebih keras. Mereka terpaksa menangani pelanggan lebih banyak dari yang seharusnya karena aku tak bisa bekerja optimal mengimbangi mereka. Akulah si karung beras, yang hanya bisa menambah beban tanpa sanggup berbuat apa-apa.

Apa karena ini? Apa karena aku tak bisa bersikap profesional, lantas aku pantas dikhianati?

“Jingga?” Sebuah suara lembut menyapaku. “Kamu nggak apa-apa? Pelangganmu baru saja pergi, sambil memaki-maki satpam dia buru-buru masuk ke mobilnya.”

Ah, Violet rupanya, selalu manis seperti biasa. “Hihi…. Sudah kuduga, dia memang nggak sabaran. Biar saja, kalau memang mendesak sekali nanti dia pasti kembali lagi dan mencariku.” Aku berusaha tersenyum riang.

“Kamu nih, bisa-bisanya ketawa renyah padahal makian pelangganmu terdengar sampai ke lantai dua. Kalau aku jadi kamu mungkin udah pingsan di tempat dari tadi.”

Aku mengecek arlojiku dan menyadari bahwa jam operasionalku sudah berakhir tiga puluh menit yang lalu. “Maaf Violet, aku ke kamar ganti dulu ya. Gara-gara pelangganku yang terakhir aku jadi pulang telat.” Aku tersenyum sungkan sambil berbalik.

Buat apa buru-buru? Takkan ada yang menjemputmu. Pun takkan ada yang mengajakmu makan malam bersama. Takkan ada lagi.

Malam itu, sama seperti malam-malam sebelumnya. Yang istimewa hanyalah langit di atas kepala kami lebih terang dari biasanya. Menampakkan bulan, Jupiter, dan Mars yang saling bersisian. Aku merapikan selimut usang yang kujadikan alas duduk dengan tangan kanan. Tangan kiriku sibuk membelai rambut halus beraroma daun mint yang berserakan di atas pangkuanku. Aku merunduk sedikit untuk menghidu aroma rambut itu lebih dalam. Aroma khas yang telah ribuan kali menyelamatkanku dari kegelisahan selama lima tahun terakhir.

“Jingga, buka mulutmu!” Aku pun menurut dan sepotong kue meluncur masuk ke dalam mulutku. Meski mulutku sedang penuh, aku berkata, “Ennhhaaak…."

Bahagia ternyata sesederhana ini. Aku dan Biru jarang bisa menghabiskan waktu berdua. Aku sibuk dengan pekerjaanku yang hanya memperoleh libur sekali dalam seminggu. Sementara Biru, pekerjaannya sebagai fotografer lepas menuntutnya untuk sering bepergian ke luar kota. Di sela-sela kesibukan kami yang padat merayap, bisa duduk berdua di halaman rumahku yang tak seberapa luas, beralaskan selimut tua, dan bicara apa saja yang terlintas dalam kepala kami merupakan suatu kemewahan.

"Nona karyawan teladan, gimana pekerjaanmu di kantor? Masih menyebalkan seperti biasanya?” Biru meraih tanganku dan memijat jariku dengan asal.

“Kapan sih pekerjaanku nggak menyebalkan?” Aku memandangi tanganku yang terhimpit di antara telapak tangan Biru yang besar, tanganku terlalu mungil dan rapuh. “Tapi hari ini aku bertemu dengan pelanggan tunawicara. Awalnya aku bingung, gimana caranya aku berkomunikasi dengan dia? Antrian semakin panjang, aku nggak paham bahasa isyarat, dia kelihatan panik, dan datang seorang diri. Lalu kuambil kertas kosong, kutulis apa yang kupahami, barulah dia mengangguk dengan girang. Akhirnya kami berkomunikasi lewat kertas. Ternyata dia baru saja kehilangan ponselnya di bis. Panik setengah mati dan langsung meluncur ke tempatku.”

Biru yang sedari tadi tertidur di pangkuanku, sontak bangkit. “Lalu? Apa nomornya bermasalah? Identitasnya sama dengan yang terdaftar di kartunya? Kamu nggak ambil risiko lagi kan sekarang hanya untuk bantuin pelanggan?"

Aku menggeleng sambil tersenyum, "Kamu tenang aja. Aku tau pelanggan seperti apa yang layak kubantu walau harus ambil risiko. Dan untungnya, pelangganku ini nggak bermasalah sama sekali. Nggak ada SOP yang kulanggar hari ini.”

Biru mengacak rambutku dengan gemas. “Jingga, apa belum cukup, kamu jadi malaikat hanya untukku?”

“Siapa yang jadi malaikat? Aku cuma… Aku cuma…” Aku memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan rona dari pandangan Biru yang tajam. “Aku pernah mengabaikan orang-orang itu, Biru, dan selama berhari-hari aku nggak tenang. Aku menyesali keputusanku yang kelewat dingin. Semestinya aku bisa bantu mereka.”

Aku sedikit tersentak saat lengan Biru merengkuh tubuhku dari belakang, “Hatimu terlalu baik untuk bekerja sebagai budak korporat. Mereka nggak mengenal belas kasihan, Jingga. Saat pelanggan yang kamu tolong ternyata malah menjerumuskanmu ke ranah kriminal, perusahaan nggak akan melakukan apapun untuk membantumu keluar dari kesulitan itu. Bagi mereka kamu melanggar prosedur, terlepas dari tindakanmu berdasar pada welas asih atau nggak.” Biru mempererat pelukannya. “Jangan bahayakan diri kamu lagi, Jingga.”

Aku berbalik dan membalas pelukannya. Tak banyak tempat yang bisa mendatangkan kedamaian batin bagiku, pelukan Biru adalah satu di antaranya. Aku menikmati momen langka ini semampuku, takkan kusanggah lagi perkataan Biru. Waktu kami terlalu berharga untuk dihabiskan dengan debat kusir. Antara Biru dan aku kini nyaris tak berjarak, namun aku sudah terlanjur merindukannya.

Tepat pukul sembilan tiga puluh, Biru pamit pulang. Aku melepasnya sampai ke pintu pagar dengan berat hati. Ia memelukku sekali lagi sebelum menunggangi Gorgon, Vespa biru keluaran tahun 1973 kesayangannya, kesayangan kami.

“Jaga diri baik-baik, Biru. Jangan terlalu kerasan di Waikabubak.” Suaraku bergetar, selalu seperti ini. Lima tahun menjalani rutinitas yang sama, dan tak sedikit pun responku membaik tiap kali menghadapi perpisahan sementara ini.

“Sejauh apapun aku pergi, sejatinya hanya untuk pulang, Jingga.” Aku merasakan bibirnya mengecup puncak kepalaku. “Kemungkinan besar di Waikabubak aku akan kesulitan dapat sinyal, akan jarang beri kabar. Kamu baik-baik ya? Aku pamit dulu.” Dengan anggukan pelan, aku mengawasi kepergian Biru, lama aku berdiri di tepi jalan hingga Biru dan Gorgon lenyap di tikungan. Ah, aku sendiri lagi….

Pekaranganku yang tak seberapa luas kini terasa lengang tanpa kehadiran Biru. Aku merapikan sisa-sisa makanan serta selimut yang berserakan. Kupeluk selimut usang itu, sedikit wangi khas Biru masih tertinggal di sana. Saat itulah mataku tertumbuk pada sebuah buku bersampul kulit yang tergeletak begitu saja di antara jajaran pot bunga mawar. Jurnal harian Biru.

Tak peduli meski teknologi terus menawarkan kemudahan setiap hari, Biru enggan melaju bersamanya. Setidaknya, tidak dalam segala hal. Dalam hal perencanaan dan pencatatan harian, Biru masih bergantung pada jurnal konvensional. Baginya tak ada hal yang lebih membuat nyaman selain mencatat setiap ide yang terlintas di benaknya langsung di atas kertas. Mencoret dan menimpanya dengan tulisan baru jika ia berubah pikiran, begitu seterusnya. Bagi Biru, jurnal ini mungkin saja memiliki peran yang sama pentingnya dengan telepon genggam. Aku harus segera menghubunginya—pluk

Apa ini? Sebuah foto polaroid? Biru dan…. siapa perempuan ini? Rekan kerjanya kah? Tidak, Biru hampir selalu bekerja sendirian. Aku mengenal baik beberapa teman sesama fotografer yang kerap berbagi perjalanan bersama Biru. Tak ada yang wajahnya seperti ini. Mungkinkah? Tidak. Aku percaya Biru. Aku percaya Biru.

Kubuka jurnal harian Biru lebar-lebar, tampaklah sederet foto polaroid yang ditempel sekenanya namun tetap menimbulkan kesan artistik. Wajah itu lagi. Wajah nakal yang sama. Bibir merah ranum yang sama, tengah mengecup bibir yang sama dengan yang pernah kukecup. Mampukah hidup menampakkan wajahnya yang lebih menjijikkan lagi dari ini? Aku mual….

Salah satu foto saling menempel dengan foto lain, menampilkan tulisan di bagian belakangnya. Tertulis Tanjung Bira, 22 Desember 2012. Itu hari kematian mendiang nenekku. Biru tak bisa mendampingiku di hari berkabung itu karena ia sedang mengerjakan sebuah proyek. Tidak. Biru tidak hanya mengerjakan sebuah proyek. Ia bekerja sekaligus melancong dengan perempuan lain. Ia… Ia…ternyata bajingan.

“Jingga?” Aku membalikkan badan dan kutatap wajah Biru yang diliputi penyesalan. Sejak kapan ia berdiri di sana? “Jingga, aku—”

“Pulanglah, Biru….” Hanya bisikan pelan yang sanggup kusuarakan. Dapatkah Biru mendengarku?

Ayah telah mengkhianatiku. Kini Biru pun mengkhianatiku. Ayo, siapa lagi yang belum mengkhianatiku?! Cepat lakukan sekarang selagi jiwaku terlanjur koyak! Biar mati aku sekalian!

Laki-laki pengecut itu menuruti permohonanku. Tak ada drama berlutut di kakiku, atau mohon ampun agar kumaafkan segala kesalahannya. Pun tak ada pembelaan diri bertubi-tubi, menuduhku salah paham, atau berkata bahwa ia bisa menjelaskan segalanya. Nihil.

Di sinilah aku sekarang, serupa selongsong kosong. Lima tahun yang sia-sia. Seperti inikah sejatinya Biru yang kukenal? Semudah itu ia menyerah padaku? Apa aku tak layak diperjuangkan?

Aku berdiri di tepian lantai teratas sebuah bangunan yang hampir tiga tahun kusebut kantor. Perlahan kulepas sepatu tumit tinggi yang menyangga tubuhku seharian. Genggamanku di pagar pembatas melemah. Aku memandang jauh ke kaki langit, kutahu takkan ada lagi jingga di langit biru.[]

Tulisan ini dibuat untuk dikirimkan kepada Logika Rasa, sebuah komunitas kreatif yang menyediakan ruang untuk bercerita, telah dimuat pada tanggal 3 September 2015. Artikel asli bisa dilihat di sini.

Comments