Fiksi: Tablet Ayah



“Nduk, bisa kemari sebentar?” Suara ayah yang dalam dan hangat terdengar dari ruang tamu. Ayu pun menghentikan kegiatannya mencacah bawang dan menghampiri sang ayah.

“Ada apa, Yah?” Ayu menghampiri dan duduk bersimpuh di sisi pria paruh baya itu.

Ayahnya mengangsurkan sebuah tablet yang tak asing lagi bagi remaja seusia Ayu. Namun bagi orangtua kolot seperti ayahnya, mengoperasikan benda canggih semacam itu rasanya seperti disuruh mengulang sekolah dari SMP hingga tamat. Terlalu banyak hal rumit yang tak ia pahami. Terlalu banyak tombol ganjil dengan fungsi yang tak lazim dan harus ia hafal. Rasanya dahulu menghafal nama-nama seluruh menteri dalam kabinet tak sesulit menghafal fungsi tiap panel yang ada dalam benda ini.

Dengan dahi berkerut, ayahnya berkata, “Gini, Nduk, ayah mau balas BBM Pakdhe-mu kok nggak bisa bisa? Kenapa ya? Apa pulsanya habis?”

Ayu tersenyum maklum dan meraih tablet itu. Ia pandangi sebentar, meneliti di mana letak permasalahannya seperti mantri sedang memeriksa pasien. Tak sampai lima detik Ayu langsung tahu sebab musababnya.

“Ya gimana mau kekirim, Yah? Lha wong tabletnya dalam kondisi flight mode.” Ayu menyodorkan kembali tablet itu ke tangan ayahnya. “Lihat nih, kalau di atas sini ada gambar pesawat, artinya tablet ini dalam kondisi flight mode. Semua koneksi terputus, jadi ayah nggak bisa kirim SMS, telepon, browsing internet, bahkan BBM pun nggak bisa. Ayah tadi pasti nggak sengaja pencet sana sini. Nih, sudah Ayu betulkan, sekarang coba lagi.”

Ayahnya kembali menekan layar tablet dengan kaku. Jemarinya yang besar seperti bongkahan lengkuas tak akrab dengan layar sekecil itu. Tangannya tercipta untuk menggenggam alat berat, bukan tablet rapuh yang tampak seolah akan retak setiap saat.

“Waaaah, bener yaa, kamu hebat, Nduk!” Wajah tuanya tampak sumringah sembari menunjuk-nunjuk layar tablet. “Lihat nih, Pakdhe-mu kirim foto dari depan rumah Eyang. Oalaaa, apik tenan…”

“Yawis, ayah jangan salah pencet lagi yaa, kalau muncul gambar pesawat lagi, udah tau kan mesti gimana?”

“Iya, Nduk. Makasih yaa…”

Ayu pun bangkit dan kembali ke beranda, di mana tumpukan bawang merah sedang menanti untuk dikupas. Ia tersenyum geli melihat tingkah polah ayahnya, persis seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. Ayahnya adalah seorang kepala sekolah di sebuah sekolah dasar negeri. Bukan sekolah dasar favorit tempat para orangtua borjuis berbondong-bondong mengantre untuk mendaftarkan putra putri mereka ke sana. Sekolah yang dipimpinnya hanyalah sekolah negeri di ambang rata-rata. Siswa-siswinya tak terlalu banyak mencetak prestasi. Pun guru-guru yang dipimpinnya sebagian mengidap masalah disipliner khas pegawai negeri sipil; terlalu santai, terlalu lalai, tak terlalu menaruh perhatian pada tanggung jawab profesi.

Walau demikian, Ayu tahu persis ayahnya tak pernah hilang akal untuk mendobrak habis ritme kerja abal-abal itu. Ia menerapkan berbagai aturan untuk menertibkan anak buahnya, meski mereka memprotes keras tepat di depan hidungnya. Begitulah karakter ayah yang Ayu kenal. Keras di tempat kerja, keras pula mendidik anak-anaknya di rumah. Namun sesekali, hanya di hadapan Ayu, putri sulungnya, ayahnya mampu menampilkan sisi lembut kebapakan. Seperti yang Ayu saksikan sore ini, ketika ayahnya takluk di hadapan tablet canggih produk dari abad ke-21. Produk yang, mau tak mau, harus dipergunakan oleh ayahnya dengan mahir, demi menunjang efisiensi kerja sebagai kepala sekolah.

Selesai menunaikan tugasnya di beranda, Ayu merapikan peralatan dapur dan tak lupa mencuci bersih tangannya. Ia kembali ke ruang tamu dan mendapati tablet ayahnya tergeletak begitu saja di atas sofa. Sepertinya tadi sang ayah terburu-buru hendak menjemput adik laki-laki Ayu yang paling kecil, sudah lewat sepuluh menit dari jam bubar madrasah. Sedikit ragu, Ayu menyentuh tablet itu. Benda itu masih menjadi barang mewah bagi keluarganya. Ia bisa mengoperasikannya, praktis karena sahabat Ayu punya benda yang sama persis dengan milik sang ayah. Tablet itu masih baru, bahkan plastik pelapis layarnya pun belum sempat dicopot.

“Tring!” Tiba-tiba muncul notifikasi di layar tablet.

Ayu yang sedang mengoprek asal aneka aplikasi di dalamnya tanpa sengaja menyentuh bagian notifikasi dan tampilan pesan pun muncul di layar. Ups! Ayu tak bermaksud mengganggu privasi ayahnya. Sebaiknya cepat-cepat kututup, pikir Ayu. Namun sebelum jemarinya berhasil menjangkau tombol untuk menutup aplikasi, matanya tak sengaja menangkap sebaris kalimat yang tak seharusnya ia baca.

“Mas, kamu kemana sih? BBM-ku dijawab dooong….”


Siapa dia? Ayu bergumam dalam hati. Ibu ndak punya BBM. Ponselnya hanya cukup untuk berkirim SMS dan menerima telepon seadanya. Lagipula, Ibu sedang sibuk membantu acara kenduri di rumah tetangga. Tak mungkin ia sempat berkirim pesan dengan ayah.


Jemari Ayu memutih, tanpa sadar ia mengenggam tablet itu lebih keras dari yang seharusnya. Ia menelan ludah, dadanya berdegup kencang, dengan mengumpulkan segenap tekad matanya kembali menatap layar, kali ini dengan pandangan yang lebih fokus. Dengan tangan kirinya Ayu menyentuh layar, menjangkau sebanyak mungkin riwayat percakapan yang sanggup ia baca. Ayahnya baru memperoleh tablet ini kurang dari seminggu, dan riwayat percakapan dalam tablet itu sudah demikian panjang.

Dari orang yang sama.

Dari perempuan yang sama.

Dengan nada manis-manja-menjijikkan yang sama.

“….kangen kamu….”

“….besok ketemu lagi ya?”

“….makasih ya Mas buat hari ini….”

“….suamiku lagi nggak ada di rumah. Cepat kesini!”

“….kenapa sih apa apa istrimu, apa apa istrimu?! Giliranku kapan???”

Astaga.

Astaga….

Ayu limbung. Ia menggapai tepian sofa dengan tangan bergetar. Ya Tuhan, tolong yakinkan aku yang kulihat ini hanya gurauan. Hanya lelucon konyol. Hanya candaan antar teman dengan bahasa yang kelewat lacur. Kumohon Tuhan….

Tak mungkin ayah berkhianat. Ayah orang paling lurus dari yang paling lurus. Dalam riwayat pekerjaannya sebagai guru, nyaris tak ada catatan penyimpangan sekecil apapun. Ayah mewariskan sifat-sifat lurusnya yang kelewat kaku pada Ayu dan adik-adiknya. Ayu nyaris tak pernah membantah setiap kata yang meluncur dari mulut sang ayah.


Ayah panutanku.

Ayah cinta pertamaku.



Ayah membuat kriteriaku terhadap laki-laki kupasang terlampau tinggi. Takkan ada laki-laki yang mampu menyamai kedudukan ayah dalam hidupku. Takkan ada.


Benarkah?
Benarkah demikian?

Ayu terlalu terguncang untuk menyadari suara motor bebek tua yang baru saja memasuki pekarangan. Ia masih memegangi tablet dengan tangannya yang kaku dan kini mulai terasa kebas. Ayu nyaris menjatuhkan tablet dalam genggamannya saat suara ayah yang lembut menyeretnya kembali ke realita.

“Nduk….kamu lihat tablet ayah?”[]


Tulisan ini dibuat untuk dikirimkan kepada Logika Rasa, sebuah komunitas kreatif yang menyediakan ruang untuk bercerita, telah dimuat pada tanggal 29 Juni 2015. Artikel asli bisa dilihat di sini.

Comments