Saudara dari Asia Selatan

Sesampainya saya di Madinah, saya langsung merasakan ada semacam ikatan tidak terlihat antara jamaah Indonesia dengan jamaah dari beberapa negara di Asia Selatan, terutama Pakistan, India, dan Srilanka. Awalnya saya bingung, mengapa mereka relatif ramah terhadap kami yang notabene bukan negara tetangga. Contohnya, ibu saya sempat dihampiri oleh seorang gadis muda yang wajahnya seperti orang Pakistan saat di masjid Nabawi. Gadis itu memberi isyarat sambil menunjuk kedua pipinya bergantian. Ibu saya bingung hingga gadis itu pun memberi isyarat seperti ingin mencium. Oh, ternyata gadis itu meminta izin untuk mencium pipi ibu saya yang lantas mengiyakan. Gadis itu tampak luar biasa senang setelah diberi izin.
Masjid Nabawi tampak luar
Lain halnya saat kami berada di Mekkah. Tetangga sebelah kamar kami di hotel adalah jamaah dari Srilanka. Suatu waktu saya keluar dari kamar melewati mereka yang sedang mengobrol. Lalu salah satu dari mereka tiba-tiba menegur, "Apa kabar?" Meski dengan tatapan bingung saya pun menjawab salam mereka sambil tersenyum. Hari berikutnya mereka kembali menyapa saat saya sedang bersama ibu saya, masih dengan kalimat yang sama. Kami pun berbincang-bincang sedikit. Saya jadi malu karena mereka bisa berbahasa Indonesia meskipun hanya sebatas sapaan pendek, sedangkan saya tidak tahu bahasa mereka sama sekali.

Salah satu menara Masjid Nabawi
Rasa penasaran saya pun terjawab pada suatu malam di Masjidil Haram. Ada seorang wanita paruh baya menenteng kursi dan bertanya pada kami apa boleh ia duduk di dekat kami, karena saat itu situasi di dalam masjid sudah sangat penuh dan hampir tidak ada ruang kosong. Saya pun bergeser sedikit untuk memberinya ruang. Saya agak takjub karena sebelumnya tidak ada yang meminta izin dengan sopan seperti itu untuk duduk di dekat kami. Biasanya kalau sudah penuh mereka duduk sembarangan meskipun harus menyita ruang sujud jamaah lain.


Salah satu menara Masjidil Haram

Tak berapa lama ia pun mulai membuka obrolan. Ia bertanya apakah kami Malaysia atau Indonesia. Kami sudah mahfum selama di sini menerima pertanyaan yang sama berulang kali. Jamaah Indonesia dan Malaysia hampir tidak bisa dibedakan kecuali jika kami membuka mulut.

Wanita itu pun menyebutkan bahwa dirinya berasal dari Pakistan. Ia bercerita bahwa di negaranya, mereka mengenal sosok besar dari Indonesia yang menginspirasi kemerdekaan Pakistan, orang itu adalah Soekarno. Saya menjawab kalau saya mengetahui bahwa Pakistan juga punya tokoh kemerdekaan yang bernama Mohammad Ali Jinnah.


Mulai dari situ ia pun antusias menceritakan kondisi di Pakistan. Menurutnya, saat ini sudah tidak ada lagi sosok hebat seperti Soekarno ataupun Ali Jinnah. Situasi politik di Pakistan sudah carut marut, terlalu banyak intervensi dari Amerika Serikat yang mengobrak-abrik Pakistan. Apapun yang dilakukan atau diperintahkan oleh Amerika Serikat, Pakistan pun melakukannya.


Kerumunan jemaah setelah waktu shalat di sekitar Masjidil Haram
Menurut penuturannya, partai-partai serta politisi di sana semuanya korup, tidak ada yang bersih. Hampir setiap hari pemberitaan mengenai pertumpahan darah mewarnai berita di Pakistan. Bahkan jika mereka sedang menyelenggarakan ibadah solat Jumat, mereka melakukannya sembari dikelilingi oleh penjagaan ketat.

Saya mendengarkan dengan seksama sambil membaca raut wajahnya yang diselimuti kesedihan. Sambil menahan geram ia berkata, "Kami ini negara muslim, mengapa untuk beribadah saja harus dikelilingi penjagaan ketat?"


Menurutnya, bahkan masyarakat muslim di India yang notabene minoritas di antara masyarakat Hindu, memiliki nasib yang jauh lebih baik dari pada muslim di Pakistan.



Kerumunan jamaah setelah waktu shalat
Dalam diam saya berpikir, sebetulnya situasi kami di Indonesia pun tidak jauh berbeda. Hanya saja intervensi yang dimaksud berjalan secara diam-diam dan tanpa kami sadari. Setidaknya, kami masih bersyukur karena tidak setiap hari masyarakat Indonesia menyaksikan pertumpahan darah melalui pemberitaan nasional.

Dengan demikian terjawablah sudah pertanyaan yang menggelayuti pikiran saya. Tak heran jika jamaah Pakistan demikian ramah terhadap jamaah Indonesia. Begitu pula dengan Srilanka dan India, kedua negara itu juga berjasa dalam sejarah kemerdekaan bangsa kita, karena mereka negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia. Mungkin kekaguman sekaligus rasa terima kasih terhadap Soekarno juga yang berhasil menumbuhkan ikatan di antara negara-negara ini.

Comments