Posts

Postcrossing: Turn Your Mailbox Into A Box of Surprises!

Image
Pernah ngerasa sensasi muncul lampu di atas kepala dan langsung pengen ngomong “Eureka!” ala Archimedes? Minggu lalu saya baru aja mengalaminya. Yah, sebetulnya sih ide yang muncul di kepala saya bukan sesuatu yang amazing atau bakal membawa kemaslahatan bagi masyarakat dunia. Saya cuma terpikir, kayaknya seru kalau saya bisa kirim-kiriman kartu pos sama orang asing dari negara lain. Pertanyaan saya cuma satu: mau kirim ke siapa? Hehe…

Hal pertama yang saya lakukan adalah googling ‘komunitas kartu pos’, karena saya yakin meski jaman udah serba digital, pasti ada sekelompok orang yang masih mengapresiasi value benda fisik. Saya pun terdampar di situs Postcrossingyang ternyata udah eksis sejak tahun 2005. Wow, kemana aja saya selama ini? Hahaha… Proyek yang digagas oleh Paulo Magalhães ini memiliki slogan "send a postcard and receive a postcard back from a random person somewhere in the world!". Hmm, pas banget memang ini yang saya cari.

Proses untuk bergabung dengan komuni…

Selamat Datang di Team Mata Empat!

Image
Setelah 26 tahun hidup dan membangga-banggakan penglihatan saya yang sehat & tajam, akhirnya tiba juga saya nggak bisa lihat tulisan di papan tulis pas lagi meeting, padahal jaraknya cuma 4 meter ke depan. Di situ saya frustasi banget dan jadi nggak konsen sepanjang meeting. Sebetulnya gejala ini udah lumayan lama saya rasain, tapi saya mikir mungkin mata saya cuma lelah. Hari-hari biasa kalau lagi di jalan, saya masih bisa lihat tulisan jarak jauh asal ukurannya besar. Tapi efeknya kepala saya gampang pusing, mata saya kayak dipaksa bekerja lebih keras.


Oke, cukup ngalor-ngidulnya. Sebelum beli kacamata, jelas saya harus cek dulu dong ke dokter mata. Di sini saya galau, harus cek di mana? Di klinik, puskesmas, rumah sakit, atau langsung datang ke optik? Mending pakai biaya sendiri atau ngandelin BPJS? Setelah diskusi sana sini, saya akhirnya putuskan buat periksa lewat jalur non-BPJS aja, karena terus terang saya nggak ada waktu buat urus tetek bengek surat rujukan,…

Vespa Super Tanpa Nama

Image
Kalau bicara tentang Vespa, saya selalu punya tempat tersendiri di hati untuk kendaraan antik dari Italia ini. Iya, itu kendaraan bermotor pertama yang dibeli ayah saya puluhan tahun lalu. Sekitar tahun 2000an, ayah saya baru pulang malam hari sambil membawa Vespa berwarna abu-abu kebiruan. Vespa Super keluaran tahun 1973 dengan mesin 2 tak, serta lampu depan yang berbentuk bulat. Sejak malam itu, hari-hari keluarga kami dipenuhi oleh bokong besar abu-abu dari Vespa yang tak sempat kami beri nama. Waktu saya masih SD, Vespa itu berjasa mengantar kami sekeluarga dari rumah ke sekolah dengan formasi saya di depan, ayah saya yang mengendarai, lalu adik saya di tengah, dan paling belakang ibu saya. Kami bukan keluarga dengan postur tubuh kecil, apalagi kalau kalian lihat ibu saya. Sampai sekarang saya nggak habis pikir, kok Vespa itu tahan ya kami dzolimi selama bertahun-tahun?


Sepanjang perjalanannya, Vespa itu sudah melewati banyak transformasi. Mulai dari stang motor yang diganti dari …

Apa yang Harus Dipertimbangkan sebelum Membeli Kamera Pertama Kali?

Image
Disclaimer: Saya BUKANfotografer apalagi pakar kamera. Saya cuma photography enthusiast yang pengen sharing pengalaman membeli kamera pertamanya, jadi harap maklum kalau pembahasannya sangat dangkal.

Membeli kamera pertama selalu membawa dilema tersendiri. Bagi sebagian orang, menggelontorkan budget sekian juta untuk benda kecil ini mungkin bukan masalah. Tapi bagi sebagian yang lain pertanyaannya mungkin, ambeh naon (re: buat apa)? Kan handphone sekarang juga kameranya udah canggih-canggih nggak kalah kayak kamera DSLR. Bener juga sih... Tapi jangan lupakan bahwa setiap benda atau komoditi selalu punya nilai objektif dan nilai subjektif. Nilai objektif itu jelas, kualitas yang dilihat dari kondisi benda yang sebenarnya. Meanwhile nilai subjektif berkaitan erat dengan subjek yang menilai benda tersebut. Bagi saya, dan rekan-rekan sesama photography enthusiast, sebuah kamera nggak bisa diukur dengan label mahal dan murah aja. Sebelum menilai kamera itu mahal atau murah dan menentukan k…

Berangkat dari Singapura, Pulang Lewat Malaysia? Bisa! (Part II)

Image
Yak, sesuai janji saya di postingan sebelumnya, saya mau melanjutkan cerita trip Singapura-Malaysia bagian kedua. Salah satu keputusan yang nggak saya sesali saat trip ke Singapura kemarin adalah memilih Meadows Hostel sebagai tempat berlabuh. Hehehe... Kebetulan Nuni yang bertugas pesan hotel, kalau nggak salah dia pesan lewat Hotels.com dengan harga 95 ringgit (sekitar 150 ribu) untuk 2 orang. Sebenarnya saya anaknya nggak neko-neko dalam memilih penginapan. Apalagi waktu saya traveling sendirian di Surabaya, meskipun waktu itu difasilitasi oleh kantor, ketimbang tidur di hotel yang agak bagus saya lebih memilih tidur di hostel dorm karena saya anaknya penakut kalau harus tidur sendirian. Hahaha...


So far, udah dua kali saya menginap di hostel dorm tapi selalu yang model kapsul (bukan tempat tidur tingkat biasa, melainkan ada sekat dan tertutup tirai), alhamdulillah saya nggak pernah mengalami hal yang nggak enak. Yang penting tetap waspada terhadap barang bawaan dan manfaatkan fasil…